Jumat, 25 September 2009

Prolog Satu



GERRY SATYA

...MENUNGGU yang selalu datang, bukankah sangat mengasyikkan. Menanti yang pasti terjadi, bukankah sangat menyenangkan. Bulan terlihat separo, sedikit cahaya keperakan ia download dengan bebas dari matahari. Begitu bangga bulan itu, saat remaja-remaja seusiaku sedang berkencan, memuji tentang "lihatlah cahaya bulan itu...", dan sebagainya. Memuakkan. Tapi sudah menjadi lidah-lidah fasih yang perlu diajari bagaimana cara melafalkan huruf vokal dan konsonan. Itu biasa.

Duduk di halte dadakan yang dibuat sekolah sungguh membuat kakinya kelu. Sekelu lidahnya yang hampir 12 jam berkutat dengan segala macam kalimat di kelas, di ruang OSIS, kamar mandi, atau bahkan di setiap sudut-sudut kecil ruang yang ia temui. Itu biasa.

Pukul 18.00, masih duduk. Kadang ia berdiri melihat ke arah selatan. Apakah ada dua lampu besar menyala. Apakah ada bunyi klakson, derum mesin, lengikingan rem yang berdecit, atau teriakan-teriakan memanggil penumpang. Itu biasa.

Pukul 18.30, tiga puluh menit dari paragraf tadi. Suasana sudah berubah.
"Ga pulang?" Seorang lelaki bertubuh tegap, membuka helm-nya. Bertanya pada orang bertubuh mungil yang duduk sendirian di halte dadakan.

"Kalau aku sudah tidak di sini, aku pasti sudah pulang...," balas orang itu ketus.

"Ya sudah. Aku pulang dulu...."

"Silakan."

Itu biasa.

Pukul 19.00, ada suara derum bus dari dekat pom bensin di selatan. Mungkin itu yang ditunggunya. Benar, itu bus-nya. Dia segera menaikkan tas bahunya. Mengusap peluh di keningnya. Menyibakkan rambut hitam tebalnya yang berminyak. Dan menaikkan kacamata yang sebelumnya melorot di tengah hidung mancungnya. Siap-siap untuk pulang.

Ia menjulurkan lengannya. Tanda agar bus itu berhenti. Menaikkannya. Tapi sial. Bus itu melewatinya. Seakan angkuh, tidak mau dinaiki oleh anak sekolahan. Menyombongkan cat bodi-nya yang mengilap, atau memang dompet para personilnya sudah penuh dengan rupiah. Orang mungil berkacamata itu tidak mendapatkan bus-nya. Tapi itu biasa.

Pukul 19.30, ia menunggu bus berikutnya. Kepastian. Sungguh, kepastian untuk pulang. Ia percaya, dan itu sudah biasa.
Tapi ia terkejut. Sebuah lampu motor yang sangat terang tengah menyorotnya.

"Nggak sopan!" hanya dalam hatinya.

Ia berdiri. Seakan membuka percakapan. Menyuruh orang di balik lampu itu mengatakan alasan penyorotannya yang kurang sopan.

Lampu itu mati, bersamaan dengan suara motornya yang juga mati.
Seorang lelaki berpostur tinggi besar turun dari motornya. Motor besar itu segagah tubuh pengendaranya yang tegap. Seperti penguasa hutan yang menaiki harimau terbaiknya.

Jaket kulit moderen yang dikenakannya mengilap. Menampakkan lekuk-lekuk dadanya yang bidang. Membentuk lekukan sempurna dari bahu lebar, turun ke pinggang yang padat dan mengecil ke bawah. Dari samping bahkan tidak akan tampak lekukan sama sekali di bagian perutnya, datar.

Dari langkahnya yang mantap, seperti perwira tinggi berjalan dengan sepatu boot besar yang kuat. Saat ia berjalan, celana jeans ketat-nya memperlihatkan lekukan-lekukan selangkangan dan tonjolan jelas di tengahnya. Sangat jelas di balik kacamata, bahkan tanpa penerangan sekecil apapun. Bukankah melihat akan lebih jelas jika tidak ada keinginan untuk melihat? Spontan. Itu biasa.

Gayanya menghampiri, meredupkan segala cahaya di bumi. Meluluhkan tanah yang menjadi pijakan. Meruntuhkan debar-debar jiwa yang semula bergelantungan di tebing-tebing kosong. Menyibakkan ilalang yang meninggi di antara hati yang kering. Menumbuhkan benih tak lazim dengan tetesan segar yang memabukkan.
Satu langkahnya serasa lama. Detik jantungnya serasa berpuluh abad. Ingin dinikmati. Tidak ingin dilewatkan dengan cepat... (to be continued)

Kamis, 24 September 2009

Cerpen : Menanti Pelangi


- ANDREY AKSANA - 

Menanti Pelangi 
Oleh: Andrei Aksana
Dimuat dalam kumpulan cerpen Rahasia Bulan (GPU. 2006)


Kucari jejakku di tubuhku.
Sisa peluhmu. Derap nafasmu. Bekas gigitanmu di dada dan leherku. Telah kutempuh tamasya berahi itu. Menghakimi setiap jengkal diriku. Menjadikannya tempat menumpahkan bukti kekuasaanmu. Lelehan lengket itu pun masih terserak di selangkanganku. Damn. Baru kusadar. Bukan saatnya aku romantis.
Aku diperkosa.

Lelaki itu mengenakan jas semiformal. Di balik kemeja dengan dua kancing atas terbuka, otot dadanya tampak menggunung, mulus seperti landasan yang mengundang untuk mendarat. Daris wajahnya yang keras, menunjukkan tabuatnya yang suka menguasai, seperti sekarang saat dia mencekokiku dengan kahluia. Gayanya kasar, cenderung meremehkan, membuat siapapun takluk di bawah kharismanya. Juga aku.

"Ayo, minu lagi!" Ia terus menjejalkan gelas ke bibirku.
Aku tidak melawan. Di tengah kepenatan kerja, aku terdampar di kelab malam ini. Tidak lagi sendirian. Karena lelaki yang berdiri di sisiku di bar, terus menggerayang mendekati diriku.

Dan aku tak pernah mengetahui identitasnya, bahkan siapa namanya, berapa usianya, apa pekerjaannya, di mana rumahnya --- semua pertanyaan klise untuk mengenal seseorang. Apakah penting? Mengapa kita tidak pernah bertanya tentang hati yang membuat percaya: Jujurkah? Tuluskah?

Entah sudah gelas keberapa yang kutenggak. Kesadaranku merayap meningalkan diriku. Sebelum aku betul-betul ambruk, lelaki itu dengan sigap memapahku. Tapi sepenuhnya aku mengerti. Mabukku bukan karena busa alkohol. Karisma lelaki itulah yang serupa bius. Meracuni sel-sel otakku.

Aku seperti layangan yang terombang-ambing di udara. Diterbangkan entah untuk apa. Entah untuk kemana. Berputar-putar.

Lalu dunia ini termangu di sini. D ranjang. Berderit-derit.

Lelaki itu mengimpitku. Tanganku terlalu lemah untuk menghalaunya, sehingha malah terkulai memeluknya---seolah berpegangan pada tebing untuk mencari selamat, padahal jurang itulah yang justru siap membuatku tergelincir---bahkan aku tak sempat lagi memekik. Ada yang membobol tubuhku.

Lelaki itu lenyap begitu saja. Seperi udara. Pergi tapi tetap terasakan kehadirannya. Meninggalkanku sendirian di kamar hotel murahan ini.

Terhuyung-huyung aku menerobos kamar mandi. Di bawah pancuran kuhapus semua kenangan tentang dirinya. Kugosok bersih-bersih sekujur tubuhku. Dengan air sabun. Hanya. Itukah yang diperlukan untuk mencuci dosa?

Ketika kuseka tubuhku dengan handuk, kupahami sepenuhnya. Ada yang ta berhasil terhapuskan. Kenikmatan. Kesakitan yang nikmat. Kenikmatan yang sakit. Menjadi candu.

Dan candu itu membuatku tak bisa berkelit. Kita tidak pernah mendendam pada yang pertama memberi kenikmatan, bukan?
Hanya berusaha memahami, mencerna satu pelajaran baru yang memabukkan. Seperti aku yang ketagihan. Menginginkan. Lagi. Dan lagi.

Aku tak pernah mencari lelaki itu untuk menuntut tanggung jawab. Klise. Kupikir ia justru membukakan mataku menemukan dunia yang kucari. Dunia lelaki yang hanya mencari kepuasan. Peristiwa itu memberi sudut pandang baru. Berkencan dengan lelaki lebih mudah dibandingkan dengan perempuan. Ternyata.

Risiko minimal. Tanpa takut hamil. Tanpa cemas dipaksa menikahi. Bahkan tak perlu merogoh dompet. Semua dilakukan atas dasar suka sama suka.
Gelepas itu semakin kuat memukul-pukul dada dan kepalaku. Kebutuhan untuk melakukannya. Mengulangi. Petualangan itu pun dimulai.

Di toilet mal.

Berdiri bersisian di depan urinoar. Diawali kerlingan mata. Saling melihat dan mengukur perangkat masing-masing. Belakangan kutahu istilahnya adalah "saling mencontek". Setelah sama-sama cocok dan melihat situasi aman, kami langsung menyerbu bilik WC yang kosong. Melakukannya sambil berdiri. Duduk di atas closet. Bukan hanya hati kami yang tegang, tapi juga sekujur ujung tubuh kami. Mendebarkan. Memuaskan.

Di kolam renang.

Begitu banyak mata kelaparan. Mulut-mulut yang dahaga. Ada yang bekat menyelam agar bisa berlutut di bawah pinggangku. Aku dibuntuti sampai loket. Berakhir dengan mandi bersama di bawah shower. Basah dalam arti sebenar-benarnya. Terhujani dan menghujani.

Di dalam lift.

Di antara desakan, di balik punggung-punggung yang tak peduli sekeliling, tangan-tangan terampil menyekap celanaku. Jemari-jemari lincah lincah menari di balik risleting. Aku mengerang. Mengaum. Merelakan diriku dimangsa binatang buas bernama laki-laki. Suaraku tertelan hiruk-pikuk arus yang bergegas keluar lift. Kalah oleh kebisingan kota yang tak pernah reda.
Lalu candu itu semakin menggiringku ke dalam lingkaran yang membelenggu. Aku mulai bergaul dengan kaum penikmat. Karena kepuasan ternyata selalu mencari parameter yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Dan aku terperosok ke dalam obsesi itu.
Aku ikut bergerombol, nongkrong di kafe mencari mangsa, terlibat pembicaraan khas mereka. Mencari teman tidur yang ideal.

Harus yang gede, supaya terasa. Lubang hanya bisa disumbat dengan semua yang besar kan? Supaya tidak bocor.
Andri, announcer.

Aku mencatat pelajaran baru: size matters. Ternyata bukan cuma perempuan yang membutuhkannya.

Yang pasrah kalo saya apa-apain. Rela jadi boneka saya. Indra, publisher.

Dibutuhkan pihak yang mau dikalahkan. Salah satu harus dominan.

Dia harus bisa menaklukkan aku, karena aku kuda bunal yang harus dijinakkan. Dia harus bisa membuatku serasa remuk dan lumer.
Dandy, banker.

Yang suka mukulin pantat eike. Makin keras, eike makin nafsu, booo. Chepi, banci salon.

Tenaga. Kekuatan. Seperti pertandingan. Hanya itu yang memuaskan ego laki-laki.

Stres bikin gue jadi begini. Gue harus mencari penyaluran. Haris, lawyer.

Aku masih tak habis pikir. Selama ini aku salah menilai orang-orang di sekitarku. Di balik kemeja licin, dasi mewah dan jas eksklusif, ternyata mereka menyimpan fantasi liar. Kedudukan, jabatan, popularitas tak menjamin kenormalan pikiran seseorang. Penampilan tak selalu menunjukkan apa yang ada di dalam diri. Apakah kita harus menjadi banci dulu, berdandan seperti perempuan, supaya bisa jujur?

Yang kaku duoong...!!! Yang macho, nggak ngondek... jadi bisa bikin eike merasa aman terlindungi... Gathan, clubber.

Laki-laki sejati yang bisa bikin gue serasa jadi cewek paling happy. Roger, dancer.

Yang bisa mengabdi dan memuaskan saya seperti seorang istri. Pras, aktor.

Gue nyari yag bottom, karena gue top. Dia harus mau dimasukin, kapan pun gue kepingin, dan dia harus pinter ganti-ganti gaya. Tendangan gue hot. Mau nyoba?
Jash, marketing executive.

Dan aku termangu mendengarnya. Pantaskah hubungan seperti ini disebut berpasangan? Bukankah hanya segala yang berbeda dan saling melengkapi yang layak dan normatif disahkan berpasangan?Langit dan bumi. Api dan air. Malam dan pagi...
Tapi laki-laki dan laki-laki?
Apakah esensi?
Kalau masih mencari pihak yang diperempuankan, ngapain juga ngeseks dengan sesama laki-laki? Mengapakah masih juga mencari fungsi lawan jenis?

Top dan bottom.
Macho dan ngondek.
Maskulin dan feminin.
Dimasuki dan memasuki.
Perjalanan ini malah membuatku semakin tersesat. Jawaban justru menimbulkan pertanyaan baru. Lebih baik aku tutup mulut. Langitku tetap kelabu.

Sampai aku bertemu denganya. Lelaki yang tak mau kuajak tidur pada saat kencan pertama.
"Ada yang lebih dari seks dalam hubungan seperti ini," ujarnya meyakinkanku. Menepis tanganku yang nakal. Menjauhkan mulutku yang ganas.

Kumulai babak baru. Love matters. Ikatan di antara kami dibangun di atas perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya one big shot, saling tukar pandang, grabak-grubuk lalu selesai.
Nilai. Itu yang kurasakan saat bersamanya.

"Sekarang kita telah siap," begitu katanya suatu hari.
Dengan senyum dan tatapan yang membuat seluruh duniaku terasa benderang. Inikah pelangi yang kunanti? Yang mampu menepis mendung dan kabut di hatiku? Yang menjanjikan warna dan nuansa?

Lalu aku dan dia memutuskan check-in di hotel mewah untuk merayakan malam pertama kami, meskipun tak perlu sampai gunting pita segala.

Aku memanjat ranjang. Ia menanggalkan baju. Kami seperti pengantin baru yang siap mereguk madu kemesraan. Ia merayap mendekatiku. Tak ada lagi yang mampu menghalangi kami. Kami telah sama-sama telanjang. Bahkan sehelai benang pun tak sanggup memisahkan kami lagi.

Aku akan mencintainya dengan utuh. Dengan seluruh. Aku berjanji. Akan kuakhiri petualangan sampai disini. Awan keraguan telah tersingkir. Kutambatkan hidupku. Meraih pelangiku. Memastikan segenap janji. Dan saat itu aku tertegun. Seperti pintu yang terbuka tapi tak ada yang memasuki. Aku dan dia sama-sama terlentang dengan kaki mengangkang. (Andrei Aksana)

Andrei Aksana, Seniman Kantoran yang Multitalenta


LAJANG kelahiran Jakarta 19 Januari 1977 ini termasuk generasi baru penulis berbakat yang karyanya banyak dinanti pembaca. Tiap novelnya selalu dicetak ulang. Uniknya, buku-bukunya selalu disisipi CD berisi soundtrack lagu yang dinyanyikannya. Cerita tentang pembacanya pun begitu heboh.

Sejak kapan sih Anda suka menulis?

Sebenarnya sudah sejak SD saya suka menulis cerpen. Anehnya, cerpen yang saya bikin selalu hilang setelah saya taruh di laci belajar saya. Saya sampai marah-marah tapi tidak ada orang di rumah yang tahu. Salah satu cerpen yang selamat, saya kirimkan ke majalah Kawanku dan dimuat. Judulnya Prasangka.

Bukannya dapat pujian, saya malah dimarahi Mama, Nina Pane. Katanya, “Ngapain kamu nulis cerpen begitu.” Dimarahi seperti itu, saya tentu saja takut. Sempat saya berhenti menulis. Meski begitu, terkadang saya curi-curi waktu bikin cerpen, meski terus saja hilang tanpa ketahuan rimbanya. Semasa SMA, satu cerpen lagi berhasil selamat dan ketika saya kirim di majalah Mode, ternyata dimuat juga.

Kenapa sih Mama melarang Anda menulis. Padahal, beliau kan pengarang kenamaan?

Mama memang penulis novel (Nina Pane Budiarto termasuk novelis kenamaan yang karyanya sering diangkat di layar kaca, misalnya Serpihan Mutiara Retak. Ia juga penulis skenario film andal). Opung saya, Sanoesi Pane dan Armijn Pane, juga dikenal sebagai pujangga di masanya. Namun, Mama tidak suka saya jadi penulis. “Kamu jangan suka menulis karena jadi penulis itu hanya ada dua kemungkinan, yaitu miskin atau gila.”

Wah, seram juga peringatan Mama. Kebetulan, dari tiga bersaudara yang semuanya lelaki, saya anak nomor dua, hanya saya yang suka menulis. Mama melarang saya mungkin karena berdasarkan pengalaman pribadi, suka menyendiri saat keinginan menulis muncul. Bila mood menulis muncul, Mama suka lupa anak. Enggak mau diganggu. Nah, Mama tidak mau saya seperti itu.

Anda tidak protes?

Tidak. Saya tahu, semua itu demi kebaikan saya. Namun, saya suka bandel juga. Waktu kuliah di Desain Grafis, Universitas Udayana, Bali, saya pernah menulis novel. Saya bebas menulis karena jauh dari orangtua yang tinggal di Jakarta. Waktu zaman top-topnya Hilman dan Zara Zettira ZR itu, saya menyelesaikan satu novel berjudul Mengukir Mimpi Terlalu Pagi. Naskah itu saya kirimkan ke Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan diterbitkan tahun 1992.

Kembali Mama menegur. “Kamu mau jadi sarjana atau ingin jadi miskin?” Wah, dalam hati takut juga dimarahi seperti itu. Kembali saya stop menulis. Sebenarnya, hanya soal ini saja Mama keras. Selebihnya, dia sangat menyayangi dan memperhatikan kami. Sering kami liburan bersama. Kebetulan Papa, Jopie Budiarto, bekerja di perusahaan Korea yang memungkinkan kami sering berlibur ke luar negeri.

Sampai saya lulus SMA, saya pernah liburan ke Amerika, beberapa negara Eropa, Asia. Tapi, belum sekali pun saya liburan ke tempat wisata di negeri sendiri. Makanya, saya memilih kuliah di Bali.

Lantas, bagaimana ceritanya Anda jadi penulis betulan?

Panjang juga ceritanya. Lulus kuliah, saya pulang ke Jakarta. Saya langsung dapat pekerjaan di perusahaan ritel internasional. Karier saya sungguh bagus. Hanya beberapa tahun, saya sudah menjadi marketing director. Saya memang menikmati pekerjaan saya, tapi ada satu hal yang rasanya kurang yaitu menulis.

Suatu saat saya bilang pada Mama, “Semua sudah saya lakukan untuk Mama. Jadi sarjana dan karier di kantor bagus. Sekarang, saya ingin juga melakukan sesuatu yang saya sukai, yaitu menjadi penulis.” Mama tidak komentar lagi. Di buku kedua yang saya tulis, Mama merestui. Mama pun menceritakan misteri naskah cerpen saya yang selama ini hilang. Ternyata, selama ini Mama yang merobek-robek cerpen saya.

Bisa cerita proses come back Anda di penulisan novel?

Jarak novel pertama dan kedua memang jauh, ya. Suatu ketika, pas masa pencarian diri, saya pernah punya keinginan menjadi penyanyi. Saya pun bertemu dengan Chossy Pratama (seorang pencipta lagu terkenal, banyak lagu-lagunya populer di masyarakat). Kami sempat membicarakan album yang mau dibikin.

Lalu Om Chossy memintaku membuat materi video klip. Om Chossy berkomentar, cerita yang saya tulis bagus. “Kalau begitu, kamu harus nulis novel dulu. Pria penyanyi, kan, banyak, tapi yang sekaligus novelis masih jarang.” Begitulah, saya akhirnya membuat novel, judulnya Abadilah Cinta.

Kenapa Anda menyisipkan CD di novel itu?

Film dan sinetron, kan, sudah biasa ada soundtrack-nya, tapi setahu saya, belum ada novel yang ada soundtrack-nya. Nah, CD itu berisi lagu yang saya nyanyikan sendiri. Lagunya diciptakan Om Chossy. Ternyata, sambutan pasar sangat bagus. Hanya dalam waktu lima hari novel terbitan GPU ini cetak ulang.

Anda tambah semangat dong?

Betul. Setahun, novel saya bisa terbit 2-3 kali. Ada teman yang mengkritik saya aji mumpung. Sebenarnya, sih, tidak. Saya, kan, seperti air yang sekian lama disumbat. Begitu keran dilepas, air pun mengalir deras.

Untuk pembeda dengan novel lain, saya hampir selalu menyertakan CD soundtrack lagu. Ternyata, banyak sisi positifnya. CD itu menjadi semacam penyelamat karena buku saya jadi susah dibajak.

Karya-karya Andrei antara lain Cinta Penuh Air Mata (2003), Lelaki Terindah (2004), Sebagai Pengganti Dirimu (2004), Pretty Prita (2005), Karena Aku Mencintaimu (2006), Hanya dengan Cinta, 20 tahun Chossy Pratama Berkarya (2007), Janda-Janda Kosmopolitan (2009, cerbung di Kompas).

Bagaimana tanggapan pembaca?

Rata-rata bagus dan banyak cerita seru. Novel saya kan ada beberapa kategori. Ada drama romantis dan chicklit. Untuk novel drama, saya mendapat banyak pembaca yang aneh-aneh, semuanya pembaca wanita. Ada yang ingin ketemu saya, kalau enggak bisa mau bunuh diri. Ada juga pembaca yang ingin saya yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun.

Wah, seru sekali.

Lebih gawat lagi saat jumpa pembaca. Usai acara, ada pembaca yang memeluk saya sambil menangis. Pokoknya saya enggak boleh pulang. Sampai-sampai ia nekat masuk ke mobil saya. Terpaksa diamankan satpam. Saat di Makassar, kamar saya sampai diketok-ketok. Ada beberapa gadis yang nungguin di lobi sampai larut malam.

Ada lagi mahasiswi yang sampai menyebarkan cerita di kampusnya, dia dan saya pacaran. Padahal, saya baru saja kenal dengannya saat jumpa pembaca di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Keluarganya sampai ikut “meneror” saya. Pernah keluarganya telepon, saya harus bertanggung jawab karena gadis itu sakit gara-gara saya. Terpaksa pihak penerbit menjelaskan, semua itu tidak benar. Menurut editor saya, Mbak Hetih, hanya saya yang menjumpai pengalaman seru dengan pembaca.

Kenapa sih bisa seperti itu?

Saya enggak tahu, mungkin mereka terbawa dengan cerita dalam novel saya. Mereka tidak bisa membedakan antara fiksi dan fakta. Saya bilang pada editor, repot juga kalau pembaca saya seperti itu. Saya pun mencoba membuat novel jenis metro pop. Pembacanya kebanyakan wanita karier dan cewek yang suka hang out.

Omong-omong, Anda menyesal enggak sih dengan larangan Mama dulu?

Oh tidak. Saya malah beruntung. Dengan kerja kantoran, saya menjadi seniman yang disiplin, dalam arti hidup saya teratur. Di kantor, sekarang saya memegang PR dan marketing, membawahi beberapa brand. Saya bisa membagi waktu untuk urusan kantor dan menulis. Kebetulan saya enggak suka dugem. Pulang kantor, saya masih sempat fitness. Selain itu, saya suka tenis dan lari. Malamnya, mulai pukul 21.00 saya menulis.

Anda kok masih betah melajang?

Namanya pasangan suami-istri kan mesti mengalah. Nah, saya masih menunggu kesadaran diri saya untuk mengalah pada pasangan. Saat ini saya belum bisa. Saya masih menikmati dunia menulis. Sekarang pacar saya laptop, ke mana-mana selalu saya bawa. Ha-ha-ha.

Di sela kesibukan, saya suka travelling. Hasil royalti selain ditabung saya gunakan untuk jalan-jalan. Belum lama ini saya cuti ke Vietnam. Dengan jalan-jalan, sekaligus saya mencari inspirasi.

Selasa, 22 September 2009

Satu Bantahan Lagi terhadap Dongeng tentang Organ Sisa


HARUN YAHYA -- Darwinisme menganggap seluruh kehidupan di bumi sebagai suatu hasil mutasi tak-disengaja dan seleksi alam dan, sebagai keyakinan yang bersifat praduga, meniadakan keberadaan perancangan cerdas. Dengan tujuan membantah adanya perancangan, pemikir Darwinis mencari-cari cacat pada keseluruhan seluk-beluk yang saling terkait dari makhluk hidup. Dari Darwin hingga Dawkins, berulang-ulang, sikap dogmatis ini telah membuat evolusionis tersebut bersikukuh tentang keberadaan struktur cacat dan organ-organ sisa (vestigial) "yang tidak memuliki kegunaan", yang bersifat praduga, pada makhluk hidup. Namun, berkali-kali juga, pengakuan berani dari para evolusionis tersebut ternyata malah menjadi bukti ketidaktahuan mereka. Organ-organ sisa yang diduga [sia-sia] tersebut kemudian ditemukan memerankan fungsi sangat penting dan keseluruh pendapat mengenai "organ sisa" ternyata merupakan buah pikiran yang keliru.

Sejarah ilmu pengetahuan mencatat adanya penyusutan terus-menerus dalam jumlah organ-organ yang dianggap sisa ini (organ vestigial). Organ-organ yang diduga tidak memiliki fungsi tersebut, satu demi satu, ternyata merupakan organ-organ dengan fungsi yang belum ditemukan. Sebuah daftar organ-organ sisa yang dibuat oleh ahli anatomi Jerman, R. Wiedersheim pada tahun 1895 memuat sekitar 100 struktur, termasuk usus buntu dan tulang ekor. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ditemukan bahwa semua organ dalam daftar Wiedersheim ternyata memiliki fungsi amat penting. Misalnya saja, telah ditemukan bahwa usus buntu, yang disangka "organ sisa", kenyataannya merupakan bagian dari sistem limfatik. Sebuah publikasi kedokteran pada tahun 1997 menyebutkan bahwa, "organ dan jaringan tubuh lainnya – thymus, hati, limpa, usus buntu, sumsum tulang, dan sejumlah kecil jaringan limfatik seperti amandel di tenggorokan dan bintik-bintik Peyer di dalam usus halus – juga merupakan bagian dari sistem limfatik. Sistem ini juga membantu tubuh melawan infeksi.

Telah ditemukan pula bahwa amandel, yang juga dimasukkan dalam daftar organ sisa yang disusun Wiedersheim, memiliki tugas penting dalam melindungi tenggorokan melawan infeksi, terutama hingga usia remaja. Telah ditemukan bahwa tulang ekor pada bagian bawah dari ruas tulang belakang menyangga tulang-tulang di sekitar panggul dan merupakan titik pertemuan dari beberapa otot kecil dan karenal alasan ini, tidaklah mungkin untuk duduk nyaman tanpa tulang ekor.

Di tahun-tahun setelahnya, disadari bahwa thymus membangkitkan kerja sistem kekebalan di dalam tubuh manusia dengan memicu bekerjanya sel-sel T, bahwa kelenjar pineal bertugas mengeluarkan sejumlah hormon penting, bahwa kelenjar tiroid sangat berperan dalam menjaga pertumbuhan teratur pada bayi dan anak, dan bahwa kelenjar pituitari bertugas memastikan bekerjanya secara benar dari banyak kelenjar hormon. Semuanya ini awalnya sempat dianggap sebagai "organ sisa". Akhirnya kelopak mata, yang dianggap sebagai organ sisa oleh Darwin, diketahui ternyata bertugas membersihkan dan meminyaki mata.

Berkurangnya secara terus-menerus pada daftar organ sisa merupakan akibat dari kenyataan bahwa ini merupakan pendapat yang disebabkan karena ketidaktahuan. Sejumlah evolusionis yang lebih bijak juga menjadi sadar akan kenyataan ini. S. R. Scadding, ia sendiri seorang evolusionis, pernah menulis dalam artikelnya "Can vestigial organs constitute evidence for evolution?" [Dapatkah Organ-organ Sisa Menjadi Bukti bagi Evolusi] yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Theory [Teori Evolusi]:

Dikarenakan tidak mungkin untuk secara pasti mengenali bentuk-bentuk tak berguna, dan dikarenakan rumusan pendapat yang digunakan secara ilmiah tidak dapat diterima, saya menyimpulkan bahwa "organ sisa" tidak dapat memberi bukti khusus bagi teori evolusi.

KAKI KUDA

Bantahan terkini terhadap kisah tentang organ peninggalan datang dari sebuah penelitian terbaru tentang kaki kuda. Sebuah tulisan pada majalah Nature terbitan tanggal 20-27 Desember 2001, berjudul: "Biomechanics:
Damper for Bad Vibrations" [Biomekanika: Peredam untuk Getaran yang Membahayakan], menyatakan bahwa, "Sejumlah serat otot pada kaki-kaki kuda tampak seperti sisa peninggalan evolusi tanpa kegunaan. Namun kenyataannya [serat-serat otot] tersebut mungkin berperan meredam getaran bersifat merusak yang muncul pada kaki ketika kuda berlari." Tulisan tersebut berbunyi:

Kuda dan unta memiliki otot-otot pada kaki-kaki mereka dengan tendon yang panjangnya melebihi 600 -milimeter dan terhubungkan dengan serat-serat otot yang panjangnya kurang dari 6 milimeter. Otot-otot pendek semacam itu dapat memanjang hanya sampai beberapa milimeter saja ketika sang hewan bergerak, dan tampaknya mustahil memiliki banyak kegunaan bagi mamalia besar. Tendon-tendon tersebut berfungsi sebagai pegas-diam, dan dianggap bahwa serat-serat otot pendek tersebut berlebih, sisa peninggalan dari serat-serat lebih panjang yang telah kehilangan perannya selama berlangsungnya peristiwa evolusi. Tetapi Wilson dan rekan-rekannya membantah... bahwa serat-serat ini mungkin melindungi tulang dan tendon dari getaran-getaran yang dapat merusak...

Percobaan-percobaan mereka menunjukkan bahwa serat-serat otot pendek dapat meredam getaran merusak yang muncul karena tumbukan kaki pada permukaan tanah. Ketika kaki seekor hewan yang sedang berlari menumbuk tanah, benturan tersebut mengakibatkan kaki bergetar; frekuensi getaran tersebut cukup tinggi – misalnya, 30-40 Hz pada kuda – pengulangan getaran akan terjadi berkali-kali ketika kaki sedang menginjak tanah jika tidak ada peredam.

Getaran tersebut berkemungkinan menyebabkan kerusakan, karena tulang dan tendon rentan terhadap kerusakan akibat kelelahan-berlebih. Kelelahan-berlebih pada tulang dan tendon merupakan kumpulan kerusakan akibat tegangan atau tekanan yang dikenakan berulang-ulang. Kelelahan-berlebih pada tulang adalah penyebab keretakan akibat tekanan atau tegangan yang diderita baik oleh olahragawan maupun kuda pacuan, dan kelelahan-berlebih pada tendon mungkin dapat menjelaskan setidaknya beberapa kasus radang tendon. Wilson dkk. berpendapat bahwa serat-serat otot yang sangat pendek
tersebut melindungi baik tulang maupun tendon dari kerusakan akibat kelelahan-berlebih dengan meredam penuh getaran...


Singkatnya, pengamatan lebih dekat pada anatomi kuda mengungkap bahwa bagian-bagian tubuh yang dianggap tidak memiliki peran oleh para evolusionis, mempunyai peran yang sangat penting. Dengan kata lain, kemajuan ilmiah menunjukkan bahwa apa yang dianggap sebagai bukti evolusi ternyata merupakan bukti bagi perancangan.

Para evolusionis seharusnya mengambil petunjuk dari kenyataan ini, jika mereka mau. Ulasan berikut ini yang dimuat dalam majalah Nature terlihat masuk akal:

Wilson dkk. telah menemukan satu peran penting dari sebuah otot yang tampak sebagai sisa dari sebuah bagian yang telah kehilangan kegunaannya selama berlansungnya peristiwa evolusi. Penelitian mereka membuat kita bertanya-tanya apakah organ-organ sisa lain (seperti usus buntu manusia) terlihat pula tidak memiliki kegunaan.

Hal ini tidaklah mengejutkan. Semakin banyak kita belajar tentang alam, semakin banyak pula kita saksikan bukti ciptaan Allah. Sebagaimana Michael Behe katakan, "kesimpulan tentang perancangan datang bukan dari apa yang kita tidak tahu, akan tetapi dari apa yang telah kita pelajari selama lebih dari 50 tahun yang lalu."5 Dan Darwinisme ternyata merupakan sebuah pendapat yang berakar dari ketidaktahuan, atau, dengan kata lain, sebuah "ateisme yang berasal dari jurang ketidaktahuan"

Perangkat Penerbangan Hebat pada Serangga


Harun Yahya 


Bagaimana seekor ganjurmampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Bagaimana seekor kutu melompat sejauh ratusan kali ukuran tinggi tubuhnya? Mengapa seekor kupu-kupu terbang maju sementara sayapnya mengepak ke atas dan ke bawah?

Lalat adalah satu di antara hewan-hewan yang disebut di dalam Al Qur’an, sebagai satu saja dari banyak satwa yang mengungkap pengetahuan tak terbatas Tuhan kita. Allah Yang Mahakuasa berfirman tentang hal ini dalam ayat ke-73 surat Al Hajj:

Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (QS. Al Hajj, 22:73)

Meskipun telah dilakukan penelitian terkini, walaupun seluruh teknologi telah Allah berikan kepada manusia, amat banyak ciri makhluk hidup yang masih menyimpan sisi-sisi menakjubkannya. Sebagaimana pada segala sesuatu yang telah Allah ciptakan, dalam tubuh seekor lalat memperlihatkan bukti melimpah pengetahuan mahatinggi. Dengan mengkaji seluk beluknya, siapa pun yang berpikir akan mampu sekali lagi merenung di atas kekagumannya yang mendalam kepada Allah dan ketaatan kepadaNya.

Sejumlah penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan terhadap perangkat penerbangan lalat dan serangga-serangga kecil lainnya diuraikan di bawah ini. Kesimpulan yang muncul darinya adalah tiada kekuatan acak, coba-coba atau wujud selain Allah yang mampu menciptakan kerumitan seekor serangga sekalipun.

Otot terbang dari banyak serangga seperti belalang dan capung mengerut sangat kuat akibat rangsangan yang ditimbulkan saraf-saraf yang mengendalikan setiap gerakannya. Pada belalang, misalnya, sinyal-sinyal kiriman setiap saraf menyebabkan otot-otot terbang mengerut. Dengan bekerja bergantian, tidak saling berlawanan, dua kelompok otot yang saling melengkapi, yang dinamakan elevator (pengangkat) dan depresor (penurun), memungkinkan sayap-sayap terangkat dan mengepak ke bawah. Belalang mengepakkan sayapnya 12 hingga 15 kali per detik, dan agar dapat terbang serangga-serangga lebih kecil harus mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi. Lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayap 200 hingga 400 kali per detik, dan pada ganjur dan sejumlah serangga merugikan yang berukuran hanya 1 milimeter (0.03 inci), kecepatan ini meningkat ke angka mengejutkan 1000 kali per detik! Sayap-sayap yang mengepak terlalu cepat untuk dapat dilihat mata manusia telah diciptakan dengan rancangan khusus agar dapat melakukan kerja yang terus-menerus semacam ini.

Sebuah saraf mampu mengirim paling banyak 200 sinyal per detik. Lalu bagaimana seekor serangga kecil mampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Penelitian telah membuktikan bahwa pada serangga-serangga ini, tidak terdapat hubungan satu-banding-satu antara sinyal dari saraf dan jumlah kepakan sayap per satuan waktu.

Pada perangkat istimewa ini, yang masing-masing diciptakan tersendiri pada tubuh setiap serangga, tak dijumpai ketidakteraturan sedikit pun. Saraf-sarafnya tidak pernah mengirim sinyal yang salah, dan otot-otot serangga senantiasa menerjemahkannya secara benar.

Pada jenis seperti lalat dan lebah, otot-otot yang memungkinkan terbang bahkan tidak menempel pada pangkal sayap! Sebaliknya, otot-otot ini melekat pada dada melalui pengait yang berperan seperti engsel, sedangkan otot-otot yang mengangkat sayap ke atas melekat pada permukaan atas dan bawah dada. Saat otot-otot ini mengerut, permukaan dada menjadi rata dan menarik pangkal sayap ke bawah. Permukaan samping sayap memberikan peran penyokong sehingga memungkinkan sayap-sayap terangkat. Otot-otot yang menimbulkan gerakan ke bawah tidak melekat langsung pada sayap, tapi bekerja di sepanjang dada. Ketika otot-otot ini mengerut, dada tertarik kembali ke arah berlawanan, dan dengan cara ini sayap tergerakkan ke bawah.

Engsel sayap tersusun atas protein khusus yang dikenal sebagai resilin, yang memiliki kelenturan luar biasa. Karena sifatnya jauh mengungguli karet alami ataupun buatan, para insinyur kimia berupaya membuat tiruan bahan ini, di laboratorium. Saat melentur dan mengerut, resilin mampu menyimpan hampir keseluruhan energi yang dikenakan padanya, dan ketika gaya yang menekannya dihilangkan, resilin mampu mengembalikan keseluruhan energi itu. Alhasil, daya guna (efisiensi) resilin dapat mencapai 96%. Saat sayap terangkat, sekitar 85% energi yang dikeluarkan disimpan untuk saat berikutnya; energi yang sama ini kemudian digunakan kembali dalam gerakan ke bawah yang memberikan daya angkat ke atas dan mendorong sang serangga ke depan. Permukaan dada dan ototnya telah diciptakan dengan rancangan istimewa untuk memungkinkan pengumpulan energi ini. Namun, energi tersebut sesungguhnya disimpan pada engsel yang terdiri atas resilin. Sudah pasti mustahil bagi seekor serangga, dengan usahanya sendiri, melengkapi diri sendiri dengan peralatan luar biasa untuk terbang. Kecerdasan dan kekuatan tak terhingga Allah telah menciptakan resilin istimewa ini pada tubuh serangga.

Untuk penerbangan yang mulus, gerakan lurus ke atas dan ke bawah saja tidaklah cukup. Agar dapat memunculkan gaya angkat dan gaya dorong, sayap haruslah pula mengubah sudut gerakannya di setiap kepakan. Sayap-sayap serangga memiliki kelenturan berputar yang khas, tergantung jenisnya, yang dimungkinkan oleh apa yang disebut sebagai direct flight muscles (otot-terbang kemudi), disingkat DFM yang menghasilkan gaya-gaya yang diperlukan untuk terbang.

Ketika serangga berupaya naik lebih tinggi di udara, mereka memperbesar sudut sayap mereka dengan mengerutkan otot-otot di antara engsel-engsel sayap ini secara lebih kuat. Rekaman gambar berkecepatan-tinggi dan gerak-terhenti memperlihatkan bahwa selama terbang, sayap-sayap tersebut bergerak mengikuti lintasan lingkar-telur dan untuk setiap kali putaran sayap, sudutnya berubah secara teratur. Perubahan ini disebabkan pergerakan yang senantiasa berubah dari otot-terbang kemudi dan penempelan sayap pada tubuh.

Masalah terbesar yang dihadapi jenis serangga sangat mungil ketika terbang adalah hambatan udara. Bagi mereka, kerapatan udara sangat besar menjadi rintangan yang tidak bisa diremehkan. Selain itu, lapisan penghambat di sekeliling sayap menyebabkan udara melekat pada sayap dan mengurangi kedayagunaan (efisiensi) terbang. Agar dapat mengatasi hambatan udara ini, serangga-serangga seperti Forcipomya, yang lebar sayapnya tak lebih dari 1 milimeter, harus mengepakkan sayap 1000 kali per detik.

Para ilmuwan percaya bahwa secara teori, kecepatan ini pun tidaklah cukup menahan serangga-serangga ini tetap di udara, dan mereka pastilah menggunakan perangkat tambahan lainnya. Pada kenyataannya, Anarsia, sejenis serangga merugikan, menggunakan cara yang dikenal sebagai 'beat and shake' (mengepak dan menggoyang). Ketika sayap-sayapnya mencapai titik tertinggi dalam gerakannya ke atas, sayap-sayap ini saling mengepak dan kemudian membuka ke bawah kembali. Di saat sayap-sayap ini (dengan jaringan pembuluh darahnya) membuka, aliran udara depan membentuk pusaran mengitari sayap-sayap tersebut dan dengan kepakan sayap membantu daya angkat.

Banyak jenis serangga, termasuk belalang, memperhatikan apa yang ditangkap penglihatannya seperti garis kaki langit (horizon) untuk menentukan arah terbang dan tujuan akhirnya. Untuk mengokohkan keseimbangan kedudukannya, lalat telah diciptakan dengan rancangan yang lebih luar biasa lagi. Serangga-serangga ini memiliki hanya sepasang sayap, tapi di sisi belakang masing-masing sayap itu terdapat tonjolan melingkar yang dikenal sebagai halter (pengekang). Meskipun tidak menghasilkan gaya angkat, pengekang ini bergetar bersama sayap-sayap depan. Di saat serangga mengubah arah terbangnya, tonjolan sayap ini mencegahnya menyimpang dari jalur perjalanan.

Seluruh pengetahuan yang dipaparkan di sini dihasilkan dari penelitian terhadap kemahiran terbang tiga atau empat jenis serangga saja. Perlu diketahui bahwa keseluruhan jenis serangga di bumi berjumlah sekitar 10 juta. Dengan mempertimbangkan seluruh jutaan jenis selebihnya ini, beserta keistimewaan tak terhitung yang dimilikinya, seseorang pasti semakin bertambah kekagumannya akan kehebatan Allah yang tak terhingga.

Pemecahan Masalah bagi Gangguan Vena dari Gen Kutu

Para ilmuwan telah berhasil memisahkan gen resilin dari lalat buah dan berhasil membuat salinan protein ini secara alamiah dengan mencangkokkan gen tersebut ke dalam bakteri Escherichia coli.

Dalam penelitian yang dilakukan the Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), (Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran Australia), para ilmuwan yang berhasil menemukan gen yang menghasilkan resilin serangga juga menemukan polimer hebat yang mungkin berguna dalam penanganan penyakit pembuluh darah vena. Pengkajian yang berawal di tahun 1960-an, yang dipusatkan pada belalang dan capung padang pasir, merupakan pendorong kuat yang memajukan tahap terpenting ini.

Resilin, yang juga memberikan kutu kemampuan untuk membuat lompatan luar biasa, melengkapi belalang dan capung padang pasir, serta serangga lain keahlian bergerak yang mengejutkan. Berkat zat ini, kutu mampu melompat beratus-ratus kali tinggi tubuhnya sendiri dan sejumlah lalat dapat mengepakkan sayapnya lebih dari 200 kali per detik.

Protein yang diperoleh dari resilin jauh lebih baik dari produk karet berkualitas tertinggi dalam hal kemampuannya menahan tekanan dan kembali ke bentuk asalnya. Penelitian yang berkelanjutan tentang resilin tiruan menunjukkan bahwa protein tersebut tetap memiliki sifat-sifat ini.

Para ilmuwan menyatakan keyakinannya bahwa polimer yang didapatkan dari pencangkokkan gen-gen serangga dapat diterapkan di aneka bidang yang sangat beragam, dari kedokteran hingga industri. Namun, mungkin yang terpenting dari penerapan ini adalah penanganan penyakit pembuluh darah arteri pada manusia. Oleh karena resilin menyerupai protein elastin pada pembuluh vena manusia, para ilmuwan berharap bahwa penelitian mereka akan memberi vena kelenturan yang terbaharui.

Profesor asal Inggris Roger Greenhalgh menyatakan bahwa “Penelitian [terhadap resilin] tampaknya berada pada tahap paling awal, tapi jika kita dapat mengambil sesuatu yang bagus dari kelenturan kutu tersebut yang bermanfaat bagi manusia, hal itu akan sangat berkesan“


Rujukan:
1. "Synthesis and properties of cross linked recombinant pro-resilin,"; by Christopher M. Elvin, Andrew G. Carr, Mickey G. Huson, Jane M. Maxwell, Roger D. Pearson, Tony Vuocolo, Nancy E. Liyou, Darren C. C. Wong, David J. Merritt and Nicholas E. Dixon, Nature 437, 999-1002 (13 October 2005) | doi: 10.1038/nature04085; "Flea protein may repair arteries" BBC News, October 12, 2005

Jumat, 18 September 2009

The Beauty of Forgiving



Kamis, 17 September 2009

Atas Nama Hati Nurani: Suara dari "Gay-Muslim"


Barangkali anda pernah membuka website Hijrah, sebuah situs untuk homoseks Muslim. Pengelola website ini berpegang pada keyakinan Islam mainstream bahwa kecenderungan homoseks tidak boleh disalurkan. Meskipun begitu, mereka cukup berpandangan “moderat” bahwa prasangka dan diskriminasi yang dialami kaum homoseks harus diakhiri. Mereka juga punya wadah mailing list bernama hijraheuy. Di samping hijraheuy, ada satu lagi mailing list yang mewadahi maksud serupa bernama backtofitrah.

Pengelola website ini juga para homoseks, meskipun mereka lebih suka menyebut dirinya sebagai same sex attraction (SSA). Mereka membedakan istilah “gay” dan “homoseks” atau SSA yang lebih sering dipakai dalam tulisan-tulisan yang dimuat. Istilah gay menurut mereka hanya bisa dilekatkan pada SSA yang melakukan praktik homoseks. Sedangkan SSA adalah terminologi netral yang digunakan untuk menyebut orang yang memiliki kecenderungan seks sejenis. Dengan begitu, mereka menolak disebut gay karena berpendirian bahwa homoseks adalah perbuatan terlarang. Namun, beberapa cerita dalam website itu menunjukkan, mereka bukanlah orang yang benar-benar terasing dari dari praktik homoseksual. Setidaknya pada masa lalu kehidupannya.

Apa saja alasannya hingga para SSA ini beranggapan praktik homoseks adalah perbuatan terlarang? Di samping merujuk pada ayat-ayat Alquran yang secara mainstream dipahami mengharamkan seks sejenis, mereka kebanyakan menunjuk kehidupan masa lalu yang tidak menyenangkan sebagai gay. Kenyataan itu memastikan, sebagian dari mereka tidaklah steril dari praktik seks sejenis.

Haykal, menulis seperti ini di milis hijraheuy : “Terus terang, dulu aku menerima kedaan bahwa diri aku G, karena kalau diri kita tak menerima, siapa lagi yang akan menerima diri kita? tapi penerimaanku bukan penerimaan yang statis, aku terus berusaha untuk memperbaiki diri karena salah satu hal yang membuat aku terus bertahan hidup adalah harapan untuk sembuh dan menjalani hidup secara normal. Bagaimana kita mau sembuh kalau masih berkubang dalam dunia G. Memang hal yang paling sulit dalam kehidupan adalah melupakan masa lalu, kita sadar masa lalu kita buruk, tapi tak bisa diulang dan telah menjadi catatan hitam dalam sejarah kita. Selama aku menjalani dunia g, aku tak mendapat kebahagian yang sebenarnya, hanya kebahagian semu karena tipu daya setan. Hidup tak punya masa depan, oke-lah kita sekarang masih muda, karir oke, tampang keren, tapi aku tidak mau menjalani masa tua nanti hidup dalam kesendirian dan terlupakan seperti Leonardo da Vinci...…” Nang Bond berkomentar begini menanggapi tulisan diatas : “Waduh mas, kisah hidup panjenengan kok sepertinya nyindir saya? memang bener mas, "jeruk kok makan jeruk ya?", tapi enak tho? he... he..... Setuju seratus persen mas, memang di kehidupan yang "beda" tuh butuh energi ekstra,,,, tahan banting,,,,, ketakutan ketahuan orang, begadang. Emang bener kok ... dunia yang panasssssssss.. kata orang panas itu hawa neraka jadi jauhilah yang panas - panas…..”

Ada pula kisah Mr. LSP yang terus terang mengaku terlibat praktik seks sejenis. Menurut ceritanya, sebelum menikah Mr. LSP tidak bernah bergaul dengan para gay, apalagi terlibat hubungan seks. Saat sekolah di luar negeripun ia mampu meredam godaan-godaan itu. Tapi justru setelah pulang ke tanah air Mr. LSP kemudian terlibat perselingkuhan dengan beberapa pria gay. Namun, tidak ada penjelasan mengapa Mr. LSP yang tadinya menjalani kehidupan “normal” tiba-tiba menempuh permainan “panas”. Padahal katanya kehidupan rumahtangganya baik-baik saja.

Saat ini Mr. LSP terlibat dilema yang sulit untuk meninggalkan pergaulan yang “panas” itu. Di akhir kisahnya Mr. LSP memberi pesan : “Please, yang belum terlanjur melakukan kebodohan seperti saya, JANGAN PERNAH MEMULAI. Ini seperti narkoba yang membuat anda kecanduan…..”

Menariknya, beberapa tulisan tidaklah melulu berisi diskusi mengenai praktik homoseks. Ada tulisan yang memberi tips bagaimana cara berhubungan intim dengan istri. Tipsnya tentu saja untuk para gay yang menikah secara heteroseks. Salahsatu tipsnya adalah jangan membayangkan berfantasi dengan cowok saat berhubungan dengan istri, nikmati saja hubungan itu. Karena itu, kita harus benar-benar mood saat berhubungan dengan istri. Sayangnya, si pemberi tips tidak menjelaskan langkah apa yang harus ditempuh selain berfantasi dengan laki-laki.

Meskipun dari beberapa tulisan di mailing list hijraheuy masih ada harapan-harapan untuk sembuh dan kembali normal, kenyataan bahwa homoseks adalah sesuatu yang permanen kelihatannya sudah diterima. Mungkin karena mereka sendiri adalah homoseks dan merasakan sendiri bahwa kecenderungan itu tidak bisa hilang meskipun sudah menikah. Namun, sifat permanen tidak bisa dijadikan alasan untuk menerima praktik homoseks. Demikian penjelasan yang diberikan.

Mereka yang aktif di mailing list hijraheuy dan menulis untuk websitenya kebanyakan sudah menikah secara heteroseks. Kenyataan ini perlu juga dicermati. Tentu saja mereka berpretensi mempertahankan pilihannya dan keharusan menjauhkan diri terhadap praktik homoseksual adalah suatu kewajiban.

Bagaimana pendapat mereka dengan berkembangkan penafsiran baru yang lebih mengakomodasi kalangan homoseks? Semperty di website Hijrah menulis : “Dulu, saya selalu mencari-cari penafsiran baru untuk membenarkan perilaku saya. Tapi saya lalu menyadari bahwa itu semua adalah pembenaran belaka untuk menyalurkan syahwat….”
Pendapat Semperty lebih merujuk pada pengalamannya sendiri daripada mengritisi berkembangkan penafsiran baru terhadap isu homoseksualitas. Soal masa lalu yang tidak menyenangkan sebagai gay lagi-lagi menjadi rujukan. Barangkali dunia gay yang dilakoni Semperty di masa lalu memang hanya berurusan soal syahwat.

Muzammil Siddiqi lewat tulisannya di website Hijrah bukan hanya menolak penafsiran baru, tapi juga menolak mendiskusikannya. Berikut petikan tulisannya : “Normalnya, kaum muslim merasa benci membuat masalah ini menjadi suatu topik diskusi karena kita tahu bahwa kadangkala setan akan menyebar selama diskusi. Ketika orang mendengar suatu perbuatan yang salah dan berdosa diucapkan berulang-ulang, mereka menjadi terbiasa dengannya dan kemudian secara perlahan perbuatan dosa itu kehilangan bobotnya dalam pikiran dan jiwa mereka….”

Di sini saya ingin mengajak anda merenungkan komentar Noeg dalam tulisannya di website Hijrah berjudul: “Pilihan yang Tidak Populer”. Tulisan Noeg diakhiri dengan pertanyaan : Beranikah anda mengikuti hati nurani dan mengambil pilihan yang tidak populer?

Sampai saat ini sangat sedikit orang yang berani memberi pernyataan tentang orientasi homoseks. Pernyataan Noeg menarik karena menjalani kehidupan gay dianggapnya sebagai sesuatu yang populer. Padahal faktanya lebih banyak orang mengikuti kehidupan seperti dirinya, menikah dan menjalani kehidupan “baik-baik”. Sebenarnya, mana sih pilihan yang lebih populer?
(posted by : arul _ http://arul1980.blogspot.com/2004/12/atas-nama-hati-nurani-suara-dari-gay.html)

Mantan Gay: Islam Membimbingku ke Jalan Lurus



IA menyebut namanya Ayub, seorang laki-laki Amerika yang memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis alias homoseks. Namun Ayub berhasil melepaskan kecenderungannya itu setelah ia memeluk Islam.

Di jaman modern ini, banyak negara yang menerima hubungan semacam itu bahkan melindungi kaum gay dan lesbian dengan alasan hak asasi manusia.

Masyarakat dunia, bahkan di komunitas Muslim, boleh dibilang makin permisif dengan hubungan sesama jenis. Mereka mengaku tidak bisa menolak kelompok ini dan meyakini bahwa Tuhan juga yang telah menciptakan manusia dalam kondisi seperti itu.

Tapi keyakinan itu dibantah Ayub. "Saya menemukan jalan yang berbeda, dengan rahmat Allah, saya berhasil melepaskan diri dari kecenderungan menyukai sesama jenis dan berhasil meninggalkan gaya hidup kaum homo. Saya bisa melakukannya setelah saya memeluk Islam," ujarnya.

"Saya ingin berbagi pengalaman, bukan untuk memicu perdebatan tapi karena saya meyakini bahwa pengalaman saya ini bisa membantu siapa saja yang memiliki menyukai sesama jenis. Saya juga berdoa agar perkataan-perkataan saya bisa memberikan bimbingan bagi para keluarga yang juga sedang berjuang melepaskan salah satu anggota keluarganya dari kecenderungan itu," jelas Ayub.

Ayub mengaku sudah menyukai sesama jenis sejak ia masih remaja. Kecenderungannya itu makin kuat ketika ia di bangku kuliah dan akhirnya malah terjerumus dalam gaya hidup kaum homoseks. Ia secara terbuka menjalani kehidupan sebagai seorang gay selama lima tahun.

"Saya menjalaninya karena ketika itu saya berpikir bahwa saya memang diciptakan begini. Kecenderungan menyukai sesama jenis itu muncul begitu saja tanpa saya mampu mengontrolnya. Saya sendiri bingung bagaimana kecenderungan itu bisa menghinggapi diri saya," tutur Ayub.

Setelah lima tahun menjalani kehidupan nista itu, Ayub mulai berpikir dan mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mengapa dia bisa sampai hidup sebagai gay, pasti ada cara lain untuk memandang sisi kehidupan ini.

Mengenal Islam

Ayub yang mengaku dibesarkan dalam keluarga yang menganut agama Kristen, tidak pernah puas dengan ajaran Kristen. "Saat dan setelah saya lulus dari akademi, saya mengeksplorasi tentang ajaran agama Budha, Hindu dan keyakinan-keyakinan lainnya untuk sekedar meditasi. Tak satu pun dari keyakinan dan agama itu memuaskan dan mampu mendorong saya untuk melepaskan diri dari kehidupan sebagai gay," keluh Ayub.

Sampai akhirnya Ayub mengenal agama Islam dan mempelajarinya secara mendalam. Pada usia 25 tahun, setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, hidup Ayub berubah total. Ketika itu Ayub merasa menemukan kejelasan bahwa apa yang selama ini ia punya nama; Allah, yang telah menciptakan saya dan umat manusia beserta dunia dan seisinya.

"Allah, yang berbicara pada manusia melalui rasulnya Muhammad Saw dan para nabi lainnya, yang telah menyampaikan pesanNya pada umat manusia sejak awal penciptaan dunia," tukas Ayub.

"Jelas sudah buat saya, jika saya ingin mengikuti jalan menuju Allah, saya harus meninggalkan gaya hidup gay saya. Islam menunjukkan pada saya, lewat pengalaman baik internal maupun eksternal bahwa homoseksualitas itu salah dan jika saya tetap melakukannya, akan menghalangi saya untuk mencapai kemajuan spiritualitas," sambung Ayub.

Ayub mengaku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata mengapa ia begitu yakin dengan Islam. Ia juga mengakui melalui tahun-tahun yang berat untuk menghilangkan kebiasaannya sebagai gay, tapi makin jauh mempelajari Islam, Ayub memiliki tekad yang makin kuat untuk melepaskan diri dari kehidupan yang penuh dosa itu.

"Dengan bantuan dari Allah, saya berhasil memutus hubungan dengan masa lalu saya. Saya juga belajar, sedikit demi sedikit bagaimana mengontrol keinginan yang bisa membawa saya ke perbuatan haram," ujar Ayub.

"Sekarang pun saya masih dalam kondisi rawan, terutama saat saya merasa lemah. Tapi saya berpikir tentang kehidupan ini, apapun yang terjadi jika saya bisa bebas dari 'kegilaan' ini dan membantu orang-orang yang bernasib sama dengan saya, saya akan sukses. Inilah jihad saya dalam hidup," tegas Ayub.

Ayub menyatakan tidak peduli ada orang lain yang menolak pendekatan yang dilakukannya. Untuk mereka yang juga sedang berjuang melepaskan diri dari kecenderungan menyukai sesama jenis, Ayub selalu berkata berdasarkan pengalaman hidupnya bahwa "Anda tidak perlu menjalani kehidupan yang bertentangan dengan apa yang telah Allah gariskan untuk kita. Anda tidak perlu menerima definisi siapa Anda jika itu bertentangan dengan apa yang telah Allah tahbiskan buat Anda sebagai seorang Muslim."

Ayub juga mengingatkan orang-orang yang pernah seperti dirinya untuk tidak perlu malu dengan penolakan dari keluarga, teman atau sahabat karena ada cara lain untuk menolong diri kita sendiri. "Ada saudara-saudara kita yang bisa membantu, seperti mereka dulu juga dibantu orang lain," pesan Ayub. (ln/readingislam_eramuslim.com)

Rabu, 16 September 2009

Perempuan Berkalung Sorban, Pengakuan Kebenaran dan Keadilan


Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Hanung Bramantyo
Penulis: Hanung Bramantyo & Ginatri S. Noor
Pemeran: Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Ida Leman
Distributor: Starvision
Rilis: 15 Januari 2009

Perempuan Berkalung Sorban merupakan film Indonesia yang dirilis pada tahun 2009 yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Film ini dibintangi antara lain oleh Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, dan Ida Leman.

JALAN CERITA

Film ini berkisah mengenai pengorbanan seorang wanita Muslim, Anissa (diperankan oleh Revalina S. Temat), seorang wanita berpendirian kuat, cantik, dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga Kyai di sebuah pesantren Salafiah putri al-Huda, di Jawa Timur, Indonesia, yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah al-Qur’an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang

Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang. Tapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (diperankan oleh Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Anissa. Diam-diam Anissa menaruh hati pada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (diperankan oleh Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo, Mesir. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Yogyakarta, Indonesia, dan diterima. Namun Kyai Hanan tidak mengizinkannya dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Namun Anissa bersikeras dan protes kepada ayahnya.

Akhirnya Anissa malah dinikahkan dengan Samsudin (diperankan oleh Reza Rahadian), seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataannya Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (diperankan oleh Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh. Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai.

KONTROVERSI

1. Tifatul Desak Film Perempuan Berkalung Sorban Dikoreksi (detik.com_Jumat, 06/02/2009 12:05 WIB)

Kontroversi film Perempuan Berkalung Sorban membuat Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring ikut bersuara. Ia mendukung seruan Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub agar film itu diboikot. Ia pun meminta film itu dikoreksi.

"Menyeru umatnya boleh-boleh saja kan. Apalagi kalau itu dianggap berbahaya atau kurang baik, lantas mereka serukan, ya silakan saja," kata Tifatul kepada detikcom

Tifatul sendiri mengaku belum menonton film tersebut. Tetapi kalau ada yang memojokkan kalangan pesantren, menurutnya sah-sah saja jika film tersebut dikoreksi.

"Seperti yang saya baca di media, seolah-olah ajaran Islam itu seperti itu, melarang begini dan begitu padahal ini tidak benar secara fikih umumnya. Menurut saya tidak ada salahnya dikoreksi filmnya, dari pada bikin heboh," tambah pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini

Presiden PKS itu lantas mengimbau agar para pekerja kreatif seperti film lebih berhati-hati dalam melahirkan karyanya bila bersentuhan dengan SARA. "Kalau menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan SARA itu harus hati-hati," pungkas Tifatul.

Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya.

2. Lembaga Sensor Film : Film ''Perempuan Berkalung Sorban'' Dibahas Dua Kali
Film Perempuan Berkalung Sorban (PBS) terus menuai protes dan kritik. Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Titie Said, mengatakan, film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu sempat dua kali dibahas di meja LSF.

Biasanya, kata dia, pembahasan sensor film cukup sekali. Pembahasan dilakukan hingga dua kali karena pertemuan pertama tak dihadiri perwakilan ahli agama.

Pada tahap pertama, imbuhnya, film itu sudah mengantongi izin lulus dewasa dengan potongan. Titie mengatakan, film itu sempat terkena gunting sensor LSF.

Titie juga mengaku saat ini pihaknya masih terus mencermati perkembangan yang ada di masyarakat.

‘’(Hal semacam ini) kan sudah banyak contohnya, seperti film Buruan Cium Gue!. Tetapi, semua itu ada di tangan menteri, kita hanya menjalankannya,’’ kata Titie menjawab kemungkinan film ini dihentikan dari peredaran.

Sedangkan pada pembahasan kedua di tingkat pelaksana harian, film ini mendapat potongan gunting sensor untuk adegan ranjang. ‘
’Pada diskusi pelaksana harian ini, perwakilan agama yang datang ada dua. Satu dari kiai dan satu lagi ahli agama.’’ Ahli agama yang dimaksud Titie adalah sarjana lulusan IAIN, tetapi tidak menyandang status kiai.

Film yang disutradarai Hanung Bramantyo itu dinilai sejumlah kalangan telah menyudutkan umat Islam. Film itu telah menggambarkan Islam sebagai agama tak sempurna dan mendiskreditkan pesantren.

Sineas senior di Tanah Air, Deddy Mizwar, menilai, cerita yang disajikan dalam film itu sangat menyudutkan Islam. Deddy menyebutkan, fikih-fikih Islam yang dihadirkan dalam Perempuan Berkalung Sorban cenderung tak jelas serta memiliki penafsiran sepihak saja.

‘’Sehingga, bisa menyudutkan pihak lain, terutama dari kalangan Islam Salafiah. Seharusnya dalam mengkritisi Islam dengan kearifan sehingga tidak menimbulkan mudharat,’’ kata pemeran Nagabonar ini saat berbincang kepada Republika melalui saluran telepon di Jakarta, Senin (2/2) siang.

Deddy melontarkan kritik keras itu setelah menyaksikan film yang dibintangi Revalina S Temat itu. Aktor gaek yang juga menjabat ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) itu menegaskan, secara umum film itu sangat menyakitkannya.

Ia menyesalkan film itu bisa lolos sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF). ‘’Barangkali perwakilan MUI-nya tidak datang,’’ sesal Deddy. MUI sendiri merupakan salah satu lembaga yang duduk di LSF.

‘’Film ini sangat menyakitkan hati umat Islam,’’ ungkap Ahmad Maulana, seorang advokat. Ia menilai, film itu mengambarkan Islam sangat tak seimbang. ‘’Islam digambarkan sebagai agama yang tak sempurna. Ini sungguh sangat melecehkan,’’ katanya tegas. Ia mendesak agar pembuat film itu meminta maaf kepada umat Islam.

Protes yang sama juga dilontarkan Indra Jaya. Dalam suratnya kepada Republika, Indra menilai film itu sangat menyesatkan. ‘’Film ini telah membuat kalimat Allah atau hadis hanya untuk diperolok-olok dan menjadi pembenar perilaku yang buruk,’’ ujarnya. Film itu dinilainya telah membuat pandangan orang terhadap Islam menjadi jelek.

Wartawan Republika yang dua kali menonton film itu dan mendapatkan sejumlah kejanggalan di dalamnya. Dalam film itu digambarkan seorang kiai menyatakan bahwa dalam Islam perempuan dilarang keluar rumah.

Sutradara Hanung Bramantyo saat peluncuran perdana menyatakan telah siap 100 persen untuk menghadapi kritik dan protes terhadap film Perempuan Berkalung Sorban. akb/hri

Kejanggalan yang Menyulut Kontroversi
* Seolah-olah Islam mengharamkan perempuan keluar rumah, baik untuk bekerja maupun belajar. Padahal, Islam tak melarang perempuan untuk keluar rumah. (Menit ke-16 dan 20).
* Orang tua Annisa yang seorang kiai melarang keras Annisa menunggang kuda dengan alasan perempuan tidak pantas menunggang kuda dan hanya laki-laki yang boleh.
* Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin, terlihat jelas dalam adegan pemilihan ketua kelas di sekolah Annisa saat duduk di sekolah dasar. Meski dia menang, lalu dianulir. Hal itu dibenarkan kiai.
* Kiai sebagai pemimpin pesantren digambarkan materialistis.
* Seolah-olah Islam membenarkan tindakan kekerasan terhadap istri dengan mendasarkan pada kitab-kitab kuning.
* Ayat-ayat Alquran ditampilkan sebagai pembenaran atas perilaku salah.

Republika, 3 Februari 2009

* Catatan : Sedih melihat bahwa Islam dalam film hanya menjadi simbol yang digambarkan dengan pemakaian jilbab dimana dan kalimat2 "Islami" yang bertaburan tapi tidak selaras dengan proses pembuatannya yang terjadi ihktilat dimana-mana bahkan bersentuhan dengan yang bukan mahromnya. Mudah-mudahan sineas lain bisa belajar dari pengalaman ini sebelum berniat membuat film Islami.
BAGAIMANA DENGAN ANDA?

3. Lagi...? Karya Anak Negeri Dikritisi?
Pernah menonton Perempuan Berkalung Sorban? Pasti kesan setiap manusia berbeda. Tergantung dari sudut pandang mana, mereka menilai film karya Hanung Bramantyo itu. Beberapa ulama, termasuk Imam Besar Masjid Istiqlal, Ali Mustafa Yaqub, memboikot film yang juga diperankan oleh Revalina itu.

Secara pribadi, saya bukan tidak setuju Islam dijadikan latar dalam tayangan itu. Tetapi, sajian yang dipertontonkan terlalu menonjolkan Islam sebagai agama seperti yang ada di Perempuan Berkalung Sorban.

Kebetulan, saya menonton film itu bersama seorang perempuan, kawan yang dulu dan saat ini masih kritis menyuarakan isu gender. Tentu saja, dengan sangat antusias ia menonton film itu. Bahkan, mungkin bisa menjadi inspirasi baginya.

Pesan yang disampaikan memang positif. Tetapi, cara penyampaian film itu tidaklah tepat. Apalagi, ada dalil-dalil dipergunakan di sana. Kalimat Tuhan, bukanlah diumbar untuk kekuasaan genre, tetapi sebagai dakwah menuju kebenaran.

Beberapa bulan lalu, saya pernah ngobrol bersama Hanung Bramantyo di Batam, dalam rangka nonton bareng Ayat-Ayat Cinta bersama turis dari Singapura. Ada satu kesimpulan yang saya tarik dari pembicaraan itu. Tapi, saya tidak bisa menungkapkannya karena terkait dengan karakter.

Menanggapi boikot para ulama, Hanung hanya berkata,"Imam itu hanya ikut omongan orang yang memang ingin memfitnah film ini. Ulama itu juga belum nonton filmnya langsung kok." (detik.com)

Saya pun terpancing untuk meminta pendapat Abu Bakar Baasyir pada waktu menjadi penceramah Tabligh Akbar di Masjid Istiqomah, Jumat (6/2). "Film itu cenderung mengundang fitnah, harus ditarik," tegasnya.

Egaliter, yang menjadi instrumen utama Demokrasi, kembali dimanfaatkan. Bukan hanya sebagai memperoleh legitimasi kekuasaan, tetapi, sudah masuk dalam mencari legitimasi dalam profit oriented. (Posted by: fuhrer banditz, http://agg-fuhrer.blogspot.com/2009/02/kontroversi-perempuan-berkalung-sorban.html)

4. Wanita Berkalung Sorban dan Sebuah Kritikan dan Koreksi
MUI sempat meminta untuk film ini dikoreksi ulang, MUI menganggap ada beberapa aspek dalam film ini yang tidak sesuai bila menggunakan latar belakang islami. Nah hal ini yang membuat kami (aku dan adiku) kemarin tertarik untuk menonton film ini. Apa yang membuat MUI menganggap ada beberapa aspek dari film ini yang perlu dikoreksi.

Menurutku film ini tidak berusaha menonjolkan Islam, atau mendakwahkan Islam. Mungkin hanya menjadikan Islam sebagai latar dari film ini. Feminisme -- hal yang diteriakkan wanita berkalung sorban dari awal sampai akhir film.

Islam adalah agama yang turun atas wahyu dari Allah SWT yang disampaikan melalui Muhammad. Dan dirupakan berupa AlQuran yang berisi wahyu dan Hadits yang berisi contoh, perkataan dan sikap dari Rosulullah. Maka jika film ini menonjolkan sisi Islam, atau setidaknya feminisme yang islami maka setidaknya film ini harus menggunakan dalil AlQuran dan Hadits untuk menjelaskan konsep itu, bukan berdasar buku buku dari barat. Itulah islam

Memang Islam tidak melarang keta untuk mempelajari buku buku dari barat, tidak ada larangan untuk itu. Tapi ingat dasar Islam adalah AlQuran dan Hadits, maka ketika buku buku dari barat itu tidak bertentangan dengan keduanya, fine.
Tetapi ketika ternyata buku buku dari barat itu bertentangan dengan AlQuran dan Hadits, kemudian kita meyakininya, jelas..... itu salah. Apalagi bila hal itu disandarkan kepada Islam, itu salah kaprah

Kebebasan, itu salahsatu hal yang digaungkan dalam film ini. Memang Islam mengajarkan kebebasan, kebebasan berpendapat , kebebasan perEkspresi. memang, tapi ingat! ini Islam. semua konteks dianggap Islami bila sesuai dengan AlQuran dan hadits, bukan hati nurani. Hati nurani yang mudah terkena tipu daya syetan. bukan itu,, Maka setiap kebebasan itu harus disandarkan kepada AlQuran dan Hadits, tidak sembarangan.
Mungkin larangan Kyai yang melarang wanita untuk berkuda itu tidak tepat, dan memang kyai bukan rosul yang pasti benar setiap kata katanya. Tetapi tetap, membangkang perintah orang tua adalah salah. dan Tidak mengikuti sunnah adalah kesalahan besar.

Semua Perbuatan tergantung dari Niatnya. sebuah potongan hadits yang sempat digunakan tokoh utama dalam film ini sebagai dasar terhadap apa yang dia lakukan. Menempatkan potongan hadits ini dalam setiap kondisi adalah hal yang salah.
Sesungguhnya potongan hadits "Semua Perbuatan tergantung dari Niatnya" adalah potongan hadits tentang hijrah.
Hijrah adalah suatu hal yang baik dan sesuai dengan syariah dan diperintahkan oleh Allah. Maka hadits ini sesuai ditempatkan disana. Niat seorang dalam melaksanakan hijrah (atau hal lain yang sesuai dengan syariah) mempengaruhi amalanya(pahala). Tapi bila hal itu adalah hal yang salah, yang tidak sesuai dengan syariah (alQuran dan Hadits), biarpun niatnya baik ---- ya tetap salah.

misalnya :

seorang yang berzina walaupun niatnya baik (untuk menolong seseorang misalnya) ==> yang dilakukan ini tetaplah salah
seseorang yang melalaikan sholat walaupun niatnya untuk kebaikan (untuk belajar misalnya) ==> yang dilakukan ini tetaplah salah.

Satu hal lagi, sedikit koreksi tentang hukum rajam yang akan dilaksanakan di pondok pesantren kepada Anisa. Ada hal yang tidak tepat ketika pondok pesantren melaksanakan hukuman rajam. pertama, pondok pesantren bukanlah pemerintahan yang sah, sehingga tidak sah melaksanakan eksekusi hukuman sesuai dengan syariat Islam. Tidak seperti Daerah Istimewa Aceh, misalnya yang melaksanakan hukuman sesuai syariat Islam, - karena memang pemerintah propinsi Aceh memang menerapkan syariat itu.Dan mereka pemenrintah yang sah, jadi mereka layak melaksanakan eksekusi hukuman syariat Islam itu. Maka yang boleh melaksanakan eksekusi hukuman syariat islam tidak lain tidak bukan adalah pemerintah yang sah, tidak pula orang yang tidak pernah berbuat dosa - seperti yang disampaiakn di film tersebut.

Jadi tidak layak seorang kyai, apalagi suami melaksanakan hukuman rajam (atau hukuman syariat Islam yang lain... cambuk misalnya). Hal seperti ini yang akhir akhir ini sering ditampakkan di layar kaca, seorang ayah yang mencambuk anaknya, atau suami yang mencambuk Istrinya dengan alasan pelaksanaan syariat Islam. Itu salah kaprah.

Hukuman rajam juga hanya diberikan kepada seorang suami atau istri yang berzina. Nah zina di sini harus benar benar jelas (jelas apa yang mereka lakukan, benar benar bersetubuh atau hanya bercengkrama) dan dengan saksi yang jelas dan dengan jumlah yang cukup. Tidak bisa seenaknya melaksanakan rajam kepada seorang yang berduaan di tempat sepi (kholwat) yang tidak jelas apa yang mereka lakukan.

maaf bila banyak kekurangan, semoga bermanfaat. (Posted by Ahmad Helmy - 10 February 2009 at 1:37 PM, http://ahmadhelmy.blogspot.com/2009/02/wanita-berkalung-sorban-dan-sebuah.html)

Ramadhan di Gaza: Berbuka Puasa dan Tarawih Tanpa Listrik



BAYANGKAN: umat Muslim di wilayah pesisir yang juga jalur perbatasan antara Palestina dan Palestina itu menjalani malam-malam Ramadhan dengan tanpa listrik. Mereka berbuka puasa, shalat tarawih berjama'ah, dan sahur dengan keadaan gelap gulita.

Sejak diboikot Israel pasca menangnya sayap Hamas di wilayah tersebut, Gaza seolah kota yang terisolasi: kota yang susah air, susah listrik, susah BBM, bahan pangan, dan seterusnya. Kondisi ini kian parah pasca penyerbuan Israel terhadap wilayah yang luasnya tak lebih dari kota Depok itu awal tahun lalu.

Di senja hari pertama bulan Ramadhan, Abu Mahmud, salah seorang kepala keluarga yang tinggal di bilangan as-Shabrah yang sederhana, telah menyalakan lilin dan lampu minyak.

"Hari ini tak ada listrik, juga sampai malam nanti. Kami harus menyalakan lilin dan lampu minyak untuk pencahayaan di malam hari," katanya.

Dan petang itu, Abu mahmud beserta delapan orang anggota keluarganya, berbuka puasa di tengah remang cahaya lilin dan lampu minyak.

"Apakah masuk akal kita berbuka puasa di tengah gelap gulita?" tanyanya.

Di hari pertama bulan Ramadhan itu, arus listrik di rumahnya dan di bilangannya harus terputus selama delapan jam, karena mendapatkan giliran pemadaman. Maklum, pasca boikot dan serbuan Israel ke Gaza, listrik menjadi barang langka dan mahal.

"Boikot dan serbuan Israel ke wilayah kecil ini telah menghancurkan segalanya," tambah Abu Mahmud.

Meski demikian, Abu Mahmud dan muslim Gaza lainnya tetap merasa berbahagia dan bersuka cita menyambut datangnya bulan ramadhan yang penuh berkah ini.

Ramadhan di Fukuoka, di Balik Persiapan Buka Bersama di Masjid An-nour



FUKUOKA adalah salah satu dari sembilan kota metropolitan di Jepang yang terletak di pulau Kyushu. Di sinilah terletak Universitas Kyushu (Kyudai) yang konon merupakan universitas yang didirikan sejak zaman kerajaan-kerajaan Jepang ada. Di universitas ini banyak sekali mahasiswa asing, termasuk diantaranya mahasiswa asal Indonesia yang jumlahnya menempati urutan ketiga terbesar setelah mahasiswa asal Cina dan Korea.

Jumlah mahasiswa asal Mesir disini juga tak kalah besar, sehingga wajarlah jika kehadiran masjid disini sangat diharapkan mengingat banyaknya mahasiswa muslim baik dari negara kita, Mesir, Bangladesh, Malaysia, Iran, Pakistan dll. Alhamdulillah sejak April 2009 ini, impian para muslim dan muslimah fukuoka menjadi kenyataan dimana Masjid An-nour Fukuoka telah diresmikan.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, selama empat kali ramadhan yang saya lewati, kami selalu mengadakan buka puasa bersama di hall asrama mahasiswa asing Kyudai. Tetapi tahun ini, kami mengadakannya di masjid baru kami. Setiap minggu, secara bergantian, mahasiswa asal Mesir, Indonesia, Bangladesh dan Malaysia akan menyediakan sajian buka puasa untuk kaum muslimin muslimat di masjid. Tahun ini, tim Indonesia kebagian pada minggu kedua tepatnya hari minggu 30 agustus kemarin.

Pada dasarnya kami merancang 400 porsi makanan, karena cek dan ricek terakhir kepada tim Malaysia dan pebisnis fukuoka yang menyediakan sajian buka puasa di minggu pertama, menyebutkan bahwa mereka menyediakan 340 namun masih kurang. Dengan pertimbangan tersebut, sehingga kami memutuskan untuk tim Indonesia akan membuat 400 porsi namun akhirnya menjadi 440 box makan dan 400 box takjil. Porsi ini terbagi menjadi 300 porsi dewasa dengan menu ayam bakar bumbu rujak, mie goreng, oseng daging sayur, nugget warna warni dan 140 porsi anak dengan menu ayam goreng, oseng pelangi, sate puyuh sosis baso. Sedangkan untuk takjil, terdiri dari cake pandan, resoles, anggur hijau dan kurma.

Di kawasan Higashi-ku, kawasan yang dekat dengan masjid ada sekitar 28 orang ibu-ibu muslimah asal Indonesia. Dari 28 orang itupun kami membagi beberapa kelompok, karena setiap sabtu kami mengadakan buka bersama untuk orang Indonesia. Dan untuk buka puasa minggu dimasjid ini ada 14 ibu-ibu yang bertugas memasak. Bisa dibayangkan dengan jumlah tersebut, akan membuat masakan asli Indonesia di negara Jepang untuk 440 box makan dan 400 takjil plus menyediakan minuman, peralatan minum dan makan di bulan ramadhan. Dengan bantuan ibu-ibu yang lain, personil masak menjadi 17 orang dan bertugas memasak pada hari H. Ibu-ibu inipun rata-rata juga mahasiswi di Kyudai yang umumnya harus ke kampus meski puasa. Subhanallah, tidak sedikit dari ibu-ibu muslimah Fukuoka ini yang juga putra-putrinya lebih dari satu, artinya kesibukan didalam dan diluar rumah tentunya sangat luar biasa. Tetapi semangat untuk menyajikan yang terbaik dari Indonesia untuk saudara yang sedang berpuasa sangat patut diacungi jempol.

Alhamdulillah tepat pukul 2 siang, makanan sudah siap di Najima kyudai klinik hall, yang sengaja kami sewa untuk menyiapkan makanan dalam box. Sekitar 4 jam, 440 porsi tersebut terselesaikan dalam tangan-tangan lincah muslimah Fukuoka. Snack untuk takjil yang dibungkus di tempat terpisah juga dapat terselesaikan tepat waktu.

Alhamdulillah sekali lagi bahwasanya buka puasa di mesjid berlangsung lancar, sukses, dan tanpa kekurangan sesuatu apapun. Hal ini semua berkat Allah SWT, ibu-ibu yang memasak, membungkus dalam box makanan, menyumbang dana maupun bahan, membantu menyalurkan makanan,membersihkan ruangan, juga bapak-bapak muslim fukuoka yang bekerja keras mengangkut makanan, membakar ayam juga membersihkan ruangan setelah selesai buka bersama. Gotong royong untuk memberikan yang terbaik untuk buka puasa tidak hanya memberikan nilai silaturrahmi yang erat tetapi juga InsyaAllah akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, amin.

Meski di Fukuoka umat Islam yang asli orang Jepang terbilang sangat sedikit, namun sebisa mungkin buka puasa seperti ini akan tetap dilaksanakan. Indahnya Ramadhan meski tidak di negara sendiri masih tetap kami rasakan. Karena hanya satu yang ada dalam benak kami, yaitu surga Allah. Amin ya robbal alamin...



(Kiriman Sri Fatmawati; Penulis adalah mahasiswi Kyushu University dan koordinator masak untuk acara Grand Ifthar Fukuoka masjid by Indonesian people.)

Tekad Muslim Indonesia Membangun Masjid di Berlin



PESATNYA kemajuan Islam di Berlin, Jerman dirasakan pula oleh umat muslim Indonesia. Dakwah semakin berkembang dan jamaah semakin bertambah. Insya Allah, kami pun membulatkan tekad untuk mendirikan Masjid Indonesia yang permanen.

Selama ini umat Muslim Indonesia sudah memiliki Masjid Al Falah IWKZ e.V. dengan mengontrak bangunan di jalan Feldzeugmeisterstrasse. Sebuah pub dan tempat pijat direnovasi para jamaah menjadi masjid yang cukup lapang.

Al Falah aktif dalam paguyuban masjid di Berlin melalui Initiative Berliner Muslime (IBMUS), bahkan menjadi wakil umat Islam dalam Komisi Integrasi Depdagri Jerman. Seiring dengan perkembangan dakwah, jumlah jamaah pun kian ramai. Alhamdulillah, sampai menjelang akhir Ramadhan, Masjid Al Falah tetap penuh saat acara Ifthar bersama dan dilanjutkan dengan Tarawih.

Meski demikian, masih ada impian para jamaah untuk memiliki gedung masjid sendiri dan bukan menyewa. Tidak lain untuk kepastian dan ketenangan beribadah selain tentunya menyesuaikan kapasitas masjid dan jumlah jamaah.

Maka, pada Sabtu 12 September 2009 usai Tarawih, Ketua Masjid Al Falah IWKZ e.V. Bapak Makky Sandra Jaya secara simbolis bersama para jamaah membacakan piagam kebulatan tekad untuk membangun Masjid Indonesia yang dimiliki sendiri.

Insya Allah ini akan menjadi masjid Indonesia pertama yang secara penuh dimiliki dan dibangun oleh anak bangsa di Jerman. Kami pun melibatkan segenap jamaah untuk bahu membahu membangun Rumah Allah ini.

Kami, jamaah Masjid Al Falah ingin mengundang seluruh umat muslim Indonesia di luar negeri dan di tanah air untuk ikut berpartisipasi dalam ikhtiar bersama ini. Umat Islam yang berniat membantu bisa berkontribusi melalui rekening yang dicantumkan dalam situs www.iwkz.de. Selain itu, informasi juga disebarluaskan lewat berbagai milis dan situs jejaring sosial. Dalam waktu dekat, Masjid Al Falah juga akan menggandeng sejumlah yayasan di tanah air untuk menerima menghimpun dana dari Indonesia. Semoga Allah memudahkan segala ikhtiar kami.

Ramadhan di Trondheim, Potret Silahturrahim Muslim Indonesia di Belahan Bumi Paling Utara


Berpuasa di daerah yang dekat dengan wilayah kutub sangatlah berbeda dengan di tanah air dimana pergantian siang dan malam berputar stablil sepanjang tahun. Di Trondheim, bulan Ramadhan tahun ini jatuh di akhir musim panas dimana waktu siang rentangnya cukup panjang. Di awal Ramadhan lama puasa di daerah ini mencapai 16 jam, dimulai pukul 04:30 pagi hingga 20:30 malam. Sebuah perjuangan yang cukup menguji iman.

Tulisan ini datang dari salah satu daerah paling utara, sebuah kota kecil bernama Trondheim, di negara Norwegia. Kota ini tepatnya berada pada 63,25′ lintang utara dan 10,23′ bujur timur, hanya 500 km jaraknya dari polar circle/ lingkar kutub utara.

Karena letaknya yang nyaris di ujung utara bumi, daerah ini beriklim dingin, dengan suhu udara terendah sepanjang tahun 2008 mencapai 14,5°C di bawah nol! Pada saat siang terpanjang di musim panas matahari menyinari Trondheim hingga 22 jam. Kapan matahari terbit dan tenggelam nyaris tak bisa disaksikan mata. Datangnya malam hanya ditandai dengan semburat merah di langit mencipta cahaya alam yang remang-remang. Sebaliknya di musim dingin, dalam sehari cahaya matahari mampir hanya beberapa jam, lalu gelap berkawan suhu dingin menusuk tulang.

Berpenduduk sekitar 165.000 jiwa, Trondheim dikenal sebagai pusat pendidikan dan penelitian teknologi di Norwegia. Beberapa tahun terakhir jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di kota ini, tepatnya di Norwegian University of Science and Technology terus meningkat. Sebagian besar yang merupakan mahasiswa Muslim menambah pula angka komunitas muslim Indonesia yang tergabung dalam Keluarga Muslim Indonesia di Trondheim (KMIT). Saat ini KMIT beranggotakan kurang lebih 80 orang yang terdiri dari para profesional dan mahasiswa Indonesia beserta keluarga.

Berpuasa di daerah yang dekat dengan wilayah kutub sangatlah berbeda dengan di tanah air dimana pergantian siang dan malam berputar stablil sepanjang tahun. Di Trondheim, bulan Ramadhan tahun ini jatuh di akhir musim panas dimana waktu siang rentangnya cukup panjang. Di awal Ramadhan lama puasa di daerah ini mencapai 16 jam, dimulai pukul 04:30 pagi hingga 20:30 malam. Sebuah perjuangan yang cukup menguji iman. Kondisi ini pula yang kemudian membuat keluarga Muslim Indonesia di Trondheim tidak begitu leluasa merancang program Ramadhan dengan kegiatan buka puasa atau tarawih bersama secara rutin. Namun begitu, Ramadhan di Trondeim tak kalah syahdunya. Tetap sarat silaturrahim dan suasana keislaman yang kental.

Tak ingin mengurangi kesempatan meningkatkan amal ibadah di bulan Ramadhan, teknologi internet kiranya menjadi solusi yang sangat membantu untuk berkomunikasi satu sama lain. Karena tak mudah untuk berkumpul secara nyata, di alam maya dirancang kegiatan bersama. Tilawah Al-Quran Online digelar setiap hari sebelum masuk waktu berbuka puasa. Dalam program ini peserta tilawah terhubung dengan program teleconference di jaringan internet, lalu membaca Al-Quran secara bergiliran. Salah seorang menjadi host dan moderator untuk mengatur lalu lintas anggota tilawah di jaringan. Satu juz bacaan per hari ditargetkan, hingga inshaallah khatam Alquran terwujud di akhir bulan suci.

Dalam prakteknya tilawah dengan memanfaatkan teknologi ini kadang juga mengalami kendala. Mulai dari jaringan yang tiba-tiba terganggu, perangkat yang kurang menunjang kualitas suara, atau jumlah peserta yang pada suatu waktu tiba-tiba membludak melebihi kapasitas, sehingga perlu di pecah menjadi kelompok-kelompok kecil. Hal-hal seperti ini kiranya menjadi pengalaman yang juga menarik dan perlu trik-trik tersendiri untuk mengatasinya.

Dua kali seminggu, pada hari Senin dan Rabu, diadakan pula Kajian Keislaman Online bersama keluarga muslim Indonesia di Skandinavia. Silih berganti para dai muda yang sedang menuntut ilmu di negara-negara Skandinavia memberikan tausyiah bagi muslimin Indonesia yang tersebar di Norwegia, Swedia dan Denmark.

Akhir pekan merupakan waktu yang selalu dimanfaatkan kaum Muslimin untuk berkumpul. Sebagaimana juga di luar Ramadhan, setiap minggu siang digelar Kajian Rutin KMIT, dilengkapi kegiatan TPA untuk anak-anak. Di Indonesia tentunya keberadaan TPA adalah sesuatu yang sudah sangat biasa. Namun di Trondheim, karena umat Islam tak banyak jumlahnya menjadikan peranan TPA semakin besar untuk menciptakan atmosfir keislaman dalam perkembangan anak-anak Muslim yang sehari-hari berada di lingkungan sekolah yang berbudaya lokal. Tidak saja untuk menunjang tugas utama orang tua dalam mengajarkan tentang dienullah, namun juga sejak dini menanamkan rasa kebersamaan dan persaudaraan antar anak-anak muslim sebagai saudara seiman.

Forum kajian rutin mingguan dibuka dengan tilawah Al Quran secara bergiliran, sambil saling mengoreksi bacaan dan menyempurnakan tajwid. Sesi kedua adalah kultum yang di sampaikan secara bergantian oleh para anggota setiap minggu. Materi utama di sesi ketiga mendapat porsi waktu terbesar dengan pembahasan seputar tauhid, ibadah, atau muamalah. Sejak mulanya hanya satu dua orang diantara anggota yang menjadi pemateri utama, kini inshaallah telah semakin tumbuh kader-kader dai dari kalangan anggota yang di asah untuk menggali ilmu-ilmu keislaman dan memantapkan langkah dalam da'wah Islamiyyah.

Di samping untuk mengkaji ilmu-ilmu agama, forum KMIT juga menjadi wadah untuk memusyawarahkan berbagai hal untuk kemaslahatan bersama. Bagi yang ingin menuntut ilmu lebih mendalam, setiap Sabtu malam digelar pula forum khusus kajian tafsir Al-Quran. Tak ketinggalan perpustakaan mini dikelola secara virtual dengan memberdayakan buku-buku koleksi pribadi dari para anggota.

Sedikit berbeda dengan bulan-bulan lainnya, di bulan Ramadhan ini kajian rutin difokuskan pada materi seputar Ramadhan: puasa, shalat malam/tarawih, zakat fitrah dan shalat Ied. Dengan menggali materi tersebut secara mendalam, kiranya ibadah Ramadhan dapat dimaksimalkan. Tak lupa pengumpulan zakat, infaq dan sadaqah menjadi agenda rutin dan terkoordinir, mengingat keberadaan Muslimin sebagai kaum minoritas di Norwegia menuntut juga kemandirian dan inisiatif yang tinggi agar dapat melaksanakan tuntunan agama secara optimal.

Kini Ramadhan sampai di penghujung, Idul Fitri menjelang. Suasana hari kemenangan di Trondheim kiranya jauh suara beduk dan gema takbir yang gemuruh, seperti lazimnya di tanah air. Namun hati kaum muslimin yang terpaut erat inshaallah sanantiasa suka cita dalam ukhuwwah Islamiyyah yang indah. Taqaballaahu minna wa minkum!

Selasa, 15 September 2009

TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADAR DAN KOREKSI TERHADAPNYA


Diantara kita mungkin pernah mendengar tanda-tanda malam lailatul qadar yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar, diantaranya: pohon sujud, bangunan-bangunan tidur, air tawar berubah asin, anjing-anjing tidak menggonggong, dan beberapa tanda yang jelas bathil dan rusak. Maka dalam masalah ini keyakinan tersebut tidak boleh diyakini kecuali berdasarkan atas dalil, sedangkan tanda-tanda di atas sudah jelas kebathilannya karena tidak adanya dalil baik dari al-Quran ataupun hadist yang mendukungnya. Yang benar tanda-tanda malam lailatul qadar yang pernah disebutkan oleh hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam paling tidak ada empat yang dapat kita ketahui bersama meskipun tanda-tanda tersebut tidak harus ada. Diantaranya:

1. Udara dan suasana pagi yang tenang

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)

2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya

Dari ubay bin ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)

3. Terkadang terbawa dalam mimpi

Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum

4. Bulan nampak separuh bulatan

Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata,

“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)

Referensi: Majalah Adz-Dzakiroh edisi khusus Ramadhan-Syawal 1429 Hal. 27-28

Jumat, 11 September 2009

Lelaki Terindah (The Most Beautiful Man)

Kategori : Novel
Judul : Lelaki Terindah (The Most Beautiful Man)
Penulis : Andrei Aksana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : III, Mei 2006
Tebal : 219 hlm
Ket : Dibeli di Gramedia Ambarukmo Plaza, 03 Februari 2008


Sudah kualami perih karena kehilangan
Sudah kureguk kecewa karena ditinggalkan
Sudah kudidera luka karena dihianati
Semua belum seberapa
Hanya satu derita yang paling menyiksa
Jatuh Cinta
Tapi tak bisa memiliki


Manis namun getir, demikian nukilan puisi yang ditulis oleh Andrei dan ditampilkan sebagai puisi pembuka di dalam bukuya yang ke-4 ini. Andrei Aksana, penulis yang dikenal dengan The Singing Author ini menyajikan cerita dalam kemasan yang unik, bertajuk Lelaki Terindah.

Bukan tema percintaan senenis yang membuat keseluruhan novel ini unik dan menarik, namun gaya tutur sang penulis dan tampilan tokoh bernama AKU, membuat novel ini demikian hidup. Andrei sangat piawai memilih kata. Ia tak malas mencari padanan kata, sehingga kalimat yang mengalir bak irama air, meliuk, kadang berderai, puitis dan romantis menerbangkan imajinasi pembacanya. Pembaca seolah membaca untaian puisi yang panjang. Sebuah karya yang lahir lewat kontemplasi.

Cucu pujangga ternama Sanoesi Pane dan Armijn Pane ini selain menulis, ia berkecimpung di dalam perusahaan retail internasional sebagai Marketing Director. Tak heran bila banyak tempat telah ia kunjungi dan menginspirasinya, menelorkan karya yang tak bisa diabaikan. Andrei Aksana adalah satu-satunya novelis di Indonesia yang menghasilkan novel beserta CD Sountrack yang ia cipta dan nyanyikan sendiri.

Mengukir Mimpi adalah debutnya yang muncul pada 1992, yang cetak ulang hanya dalam lima hari setelah rilis. Disusul novelnya yang lain ; Sebagai Pengganti Dirimu, Cinta Penuh Air Mata, Lelaki Terindah, dan yang paling baru adalah Cinta 24 Jam.

Lelaki Terindah yang diceritakan dalam novel ini adalah Rafky, seseorang yang tampan dan nyaris tanpa cacat. Ia lahir dan dibesarkan di dalam lingkungan keluarga yang menuntutnya menjadi manusia serba sempurna. Kecerdasan dan ketampanannya mampu membius semua orang. Membuat mata tak ingin berpaling. Sosok tubuh yang menjulang, membuat ia menjadi sosok yang sempurna memikat.

Suatu hari dalam perjalanan menuju Thailand, Rafky bertemu dengan Valent, lelaki mapan yang sedang menghitung hari pernikahannya. Rafky yang tampan mencuri perhatiannya. Pun sebaliknya, mata teduh Valent memesona Rafky.

Valent yang kehilangan sosok ayah, membuat ia rindu kasih sayang ayahnya. Valent ingin menyandarkan segala inginnya kepada Rafky. Untuk itulah Valent mengundang Rafky untuk tinggal bersamanya selama liburan di Thailan. Rafky yang anti kemapanan semula menolak, namun akhirnya menerima. Kebersamaan mereka menimbulkan benih-benih cinta. Cinta terlarang tentu saja.

Ketika mereka kembali ke Indonesia, merekapu harus kembali menjadi diri masing-masing. Namun mereka tak mampu menyingkirkan kenyataan bahwa hati mereka terikat satu sama lain.

Rafky yang memiliki Rhea, dan Valent yang dicintai Kinan membuat keduanya (Rafky dan Valent tersiksa). Polemik inilah yang diangkat menjadi cerita yang tak biasa. Tokoh aku, yang diminta Rafky menjadi penulis kisah cinta mereka berdua membuat novel ini menjadi semakin unik.

Andrei juga dengan seksama menceritakan perasaan orang-orang yang dikecewakan ; Ayah dan Ibu Rafky, Juga Rhea..dan Ibunda Valent serta kekasihnya.

Membaca novel ini membuka gerbang kesadaran pembaca, bahwa di luar sana…banyak fenomena serupa, sesuatu yang terjadi dengan sendirinya..atau atas pengaruh lingkungan? Entahlah… (gerr)

Cinta Terlarang




Kategori
: Novel

Sinopsis :
Buku Terbaik Publisher Weekly 2007
Pemenang Rauxa Award 2007


Elio, seorang remaja pria Italia, merasa kalut dan kebingungan ketika merasa dirinya jatuh cinta setengah mati kepada tamu lelaki dari Amerika yang menginap di rumahnya selama musim panas. Tidak yakin terhadap keinginannya sendiri, ia berusaha keras mengingkari perasaan tertariknya yang tak wajar itu. Walaupun suka menyendiri dan lebih pandai bergaul dengan buku ketimbang dengan manusia, secara fisik ia sangat menarik dan banyak perempuan mengejarnya.

Di luar dugaan, Elio tidak bertepuk sebelah tangan. Oliver ternyata membalas perasaannya. Di akhir musim panas itu, mereka pergi ke Roma sebelum Oliver pulang ke negaranya. Di kota itu, mereka menemukan kehangatan dan kebersamaan total yang jarang dimiliki pasangan lain, tanpa menyadari itulah terakhir kalinya mereka bisa berdua. Oliver kemudian pulang ke Amerika dan menikah dengan seorang wanita. Merasa dikhianati, Elio yang patah hati menolak bertemu dengan kekasihnya. Namun, seumur hidup ia tak mampu melepaskan diri dari bayangan Oliver. Ia menunggu bertahun-tahun untuk memastikan bahwa perasaan mereka bukan sekadar cinta semusim.

Novel ini mengisahkan liku-liku cinta terlarang dengan segala dilema dan tarik ulurnya. Hubungan Elio dan Oliver juga diwarnai hubungan bercabang mereka dengan sejumlah perempuan. Novel ini bukan hanya enak dibaca, tapi juga menghibur dan sekaligus membuka wawasan kita tentang makna cinta dan pengorbanan.

Spesifikasi Buku
Penerbit : Serambi
Pengarang : Andre Aciman
Kelompok : Novel
Bahasa : Indonesia
Cover : softcover

Label: Serambi

 
Powered by Blogger