Selasa, 03 November 2009

Film : "for love" (main cover)

Film : "for love" (back cover)

Film : "For Love" Smekensa Production 2008

Film : "Emak Ingin Naik Haji"

 
Mizan Productions yang identik dengan film keluarga bermutu, seperti "Laskar Pelangi" dan "Garuda di Dadaku", kembali menghadirkan film baru yang dapat dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Lewat kerjasama dengan Smaradhana Pro, hadirlah "Emak Ingin Naik Haji", sebuah film drama religi yang mengangkat berbagai nilai kehidupan: kegigihan, ketulusan, kasih sayang, semangat berbagi, berserah diri dan berbagai nilai indah lainnya yang mungkin saja terlupakan.


 "Emak Ingin Naik Haji" melengkapi kebutuhan akan film berkualitas yang menyentuh, menghibur dan memberi inspirasi. Bertutur tentang Emak, seorang wanita paruh baya yang dengan gigih berusaha untuk dapat mewujudkan impiannya sebagai muslimah, yaitu pergi ke tanah suci Mekkah, melengkapi ibadah sesuai rukun Islam yang kelima, Pergi Haji. Ditemani oleh Zein, anak satu-satunya, Emak menjalani hidup dengan membuat kue yang dijual di pasar atau untuk pesanan pesta.



 
Dari hasil penjualan kue, sedikit demi sedikit, Emak menyimpan uangnya untuk membulatkan niatnya pergi ke tanah suci. Walaupun Emak tahu, apa yang diinginkannya belum tentu dapat terwujud, tetapi Emak tidak patah semangat. Ia terus berusaha untuk melakukan yang terbaik dan membulatkan niatnya sambil berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Terwujudkah impian Emak pada akhirnya? "Emak Ingin Naik Haji" menampilkan kisah dari beberapa keluarga yang memiliki gaya dan tujuan hidup masing-masing, tetapi memiliki satu hal yang sama, yaitu keinginan untuk pergi haji.

Masing-masing dengan caranya berusaha mencapai keinginannya untuk sampai ke tanah suci Mekkah, menunaikan kewajiban Rukun Islam yang kelima. Secara halus, film yang disutradarai oeh Aditya Gumay yang sekaligus menjadi penulis skenarionya bersama Adenin Adlan ini, juga menceritakan tentang realita seluk-beluk haji di Indonesia. Emak adalah representasi dari kelompok masyarakat yang sangat merindukan Mekkah tetapi karena persoalan finansial, maka pergi haji itu menjadi sebuah hal yang sangat jauh di awang-awang.

Sementara itu, Juragan Haji bersama keluarganya dengan penuh kemudahan dapat melakukan ibadah haji dan umroh kapan saja mereka inginkan. Adapula Pak Joko, yang memaksakan diri untuk pergi haji karena tujuan tertentu di luar ibadah. Ide cerita "Emak Ingin Naik Haji" memang diangkat dari sebuah cerita pendek yang ditulis oleh Asma Nadia. Dengan kepiawaiannya, Aditya Gumay mengubah cerita pendek itu menjadi skenario yang sangat indah.


 
Dukungan pemain-pemain handal yang tidak diragukan lagi keahliannya dalam berakting juga menjadi kekuatan film ini. Sebut saja nama Didi Petet (Juragan Haji / H. Saun), Niniek L. Karim (Istri Juragan Haji / Hj. Markonah), Henidar Amroe (Istri Pak Joko / Ny. Noni), Cut Memey (Yanti), dan pastinya Ati Kanser (Emak) serta Reza Rahadian (Zein) yang menjadi pemeran utama dalam film ini, bermain dengan sangat bagus dan kompak, saling mendukung perannya masing-masing.

Kehadiran score musik garapan Adam S. Permana yang juga mewarnai film ini, menjadikan "Emak Ingin Naik Haji" semakin menarik untuk dinikmati bersama keluarga. Rasakan juga keindahan lagu-lagu yang ada dalam paket original soundtracknya, seperti lagu "Pergi Haji" milik Haddad Alwi yang dinyanyikannya bersama Ashilla.

Atau, lagu "Ibunda" yang liriknya penuh penghormatan kepada seorang ibu, yang diciptakan oleh Aditya Gumay. Semuanya ini, menjadikan film ini, menjadi semakin berkualitas. (*)



Senin, 02 November 2009

Creative Disc Exclusive Single – 02 Nov 2009



Adam Lambert (Alb.For Your Entertainment / RCA) – For Your Entertainment
Akhirnya single pertama dari debut album Runner Up American Idol 8, Adam Lambert direlease juga. Single “For Your Entertainment” yang merupakan title track dari debut album yg bakal release tgl 23 November ini ditulis oleh Claude Kelly dan Dr.Luke. Single ini bertolak belakang dengan ‘Time For Miracles’ yg bernafaskan Rock, disini Adam mencoba membawakan single Pop Electro dengan uptempo beat, yang ternyata cocok banget dibawakan dengan style vocalnya, dimana ada bagian lagu dengan khas jejeritannya. Dari segi promosi yang cukup gencar, cover album maupun single yang bikin orang pasti noleh, dijamin single maupun album ini bakal laku keras! (8/10)


Lifehouse (Alb. Smoke And Mirrors / Geffen) – Halfway Gone
Band Alternative Rock asal Malibu, California ini bakal merelease album ke-5nya yg berjudul “Smoke and Mirrors” dengan jadwal release 8 Des. Di album ini nantinya mereka juga bakal berkolaborasi bareng Chris Daughtry, tapi sebelumnya mari kita simak single pertama nya yaitu ‘Halfway Gone’ yg di release via iTune tgl 27 okt lalu. Single yang di ciptain oleh sang lead singer, Jason Wade ini masih menampilkan ciri khas Lifehouse yang cukup easy listening, beat2 yang ringan dan jauh dari kesan Rock yang keras! (8/10)


Jason Jones (Single / Warner) – Unlikely Angel
Pendatang baru asal Tallahassee, Florida USA ini memilih jalur Country sebagai musiknya. Dengan modal tampang cakep dan vocal dengan cengkok khas Country, sepertinya Jason Jones bakal meraup sukses dengan genre nya yang akhir2 ini emang lagi naik daun. Warner Music Indonesia pun merelease single ini yang sepertinya bakal disusul dengan albumnya yang hingga saat ini belum ada kabar resminya. Single pertama ‘Unlikely Angel’ ini masih bermain di Country Pop dengan uptempo beat. (7/10)


James Morrison (Alb.Songs For You, Truths For Me-Deluxe Edition / Polydor UK) – Get To You
Setelah sukses dengan album terakhirnya yang berjudul “Songs For You, Truths for me” pada tahun 2008 lalu, James Morrison merelease ulang albumnya “Songs For You, Truths For Me-Deluxe Edition” dengan bentuk deluxe edition yang bakal di release 16 Nov dan juga single baru yang berjudul “Get To You” . Karakter suara dari James Morrison memang tidak diragukan lagi dan single ‘Get To You’ ini patut diacungi jempol, aransemen musik dan ciri khas vocal yang sedikit terdapat sentuhan blues menciptakan karya yang luar biasa dan sangat menyegarkan, teriakan-teriakan yang ada di pertengahan lagu juga sangat ekspresif dan membuat lagu ini unik dan liriknya pun mudah sekali dicerna. (8/10)


Sarah Dawn Finer (Alb.Moving On / Roxy) – Standing Strong
Penyanyi asal Stockholm, Swedia kelahiran 14 Sep 1981 ini merupakan artis dan juga singer / songwriter yang pernah ikutan Melodifestivalen di tahun 2007 dan 2009. Album keduanya “Moving On” sudah direlease tgl 26 Agt dan langsung debut jadi jawara di Chart Swedia. Coba dengerin single ke-3nya ‘Standing Strong’ ini di release 12 Agt lalu di Swedia, merupakan single Pop Ballad yang ada sedikit kemiripan dengan single milik Alicia Keys. (7/10)


Snoop Dogg ft.The-Dream (Alb.Malice n Wonderland / DoggyStyle) – Gangsta Luv
Rapper yang punya nama asli Cordazar Calvin Broadus ini sepertinya karirnya agak meredup di bidang musik dan makin bersinar di perfilman! hehe… Tapi tenang dulu, karena Snoop Dogg bakal merelease album ke-10nya “Malice n Wonderland” tgl 8 des mendatang. Single pertamanya adalah ‘Gangsta Luv’ yang di produseri oleh Tricky Stewart dan menampilkan The-Dream. Seperti karya2 Tricky Stewart sebelumnya, pasti ada ciri khas yang nampak di single ini, ditambah ciri khas nge-Rap ala Snoop Dogg yang nyantai, ditambah pemanis vocal The-Dream yang bikin single makin asyik. (8/10)


Jadyn Maria ft.Katy Perry (Alb.Man’s World / Universal) – A Man’s World
Ketidak jelasan perilisan album “Man’s World” membuat Jadyn Maria terpaksa mengeluarkan single andalan terbaru, agar namanya tidak ditelan bumi. Kalau kemaren, Jadyn Maria berduet dengan Flo-Rida dengan singlenya “Good Girls Like Bad Boys”, kali ini penyanyi asal Puerto Rico ini ganti pasangan. Menggaet sahabatnya sendiri, Katy Perry, Jadyn siap dengan single “Man’s World”. Single ini diproduseri oleh D. Smith. Overall, single ini asik buat dicerna, apalagi hook “oh-oh-oh” nya yang sick abis. Semoga album yang rencana berjudul “Man’s World” ini nggak molor lagi. (8/10)


The Rocket Summer (EP.You Gotta Believe / Island) – You Gotta Believe
The Rocket Summer merupakan one-man-band rock-solo-project dari Bryce Avary. So, jangan kaget kalo bryce Avary bisa memainkan semua alat musik ‘band’. Sudah mengeluarkan 3 album, dan sekarang the Rocket Summer siap dengan album keempatnya yang akan rilis tahun 2010 nanti. Sebagai pemanasan, The Rocket Summer merilis EP lewat iTunes “You Gotta Believe” yang menjagokan single “You Gotta Believe”. Single (EP) yang sempet jadi nomer 1 di iTunes ini merupakan track power pop yang ‘noisy’, dengan reff yang cukup catchy. (7/10)


Lovestoned (Single / Universal Germany) – Rising Girl
Let’s Go reggae with Lovestoned! Perkenalkan, Par, Rob, Emelie, dan Elena. 4 orang musisi muda asal Swedia, yang ternyata sukses di Jerman. Lewat single “Rising Girl” yang sudah rilis 28 Agustus lalu, Lovestoned sudah masuk di chart2 di Jerman sana dan mendapat respon yang cukup bagus. Tentu saja karena single pertamanya “Rising Girl” yang punya irama reggae dengan influence scandinavian. astinya, denger lagu yang satu ini langsung bisa bergoyang reggae. (8/10)


Alain de Courtenay (Alb.The Pregnant Letter / TBA) – Sing To You
Kalau demen ama Acoustic Indie coba kenalin pendatang baru yang lagi naik daun di YouTube ini, Alain de Courtenay. Cowok asal Chicago, USA yang berusia 25 thn ini merelease sendiri debut album pertamanya secara digital di iTunes dan Amazon. Coba dengerin ‘Sing To You’ single akustik gitar yang satu ini terdengar kalem abis, kalo demen ama Damien Rice, boleh coba yang satu ini! (7/10)


Taylor Swift (Alb.Fearless Platinum Edition / BigMachine) – Jump Then Fall
Sepertinya tidak perlu pengenalan lebih lanjut tentang Taylor Swift. Country Pop Teen sensation yang satu ini emang sedang menanjak banget karirnya. Album keduanya “Fearless” ini sudah terjual lebih dari 4 juta keping, dan apabila digabung dengan album pertama dan juga EP nya, total sudah lebih dari 10 juta keping! Prestasi yang luar biasa buat penyanyi yg baru berusia 19thn ini. Kini, Taylor Swift merelease ulang album “Fearless” dalam bentuk Platinum Edition dengan tambahan 6 lagu baru. Single nya ‘Jump Then Fall’ ini langsung meroket jadi jawara di iTunes begitu direlease! (8/10)


(www.creativedisc.com)

Sabtu, 24 Oktober 2009

CHILDHOOD


"...little girl and little boy walking while holding hands..."

PROLOG TIGA PULUH LIMA

Jumat, 23 Oktober 2009

PROLOG TIGA PULUH EMPAT


Baru 4 pertemuan...
Malam pertama. Tempat perkenalan yang sama. Balutan jaket manco hijau pastel, dan kneey-jeans serta sandal putih. Berkeliling tak tahu arah, layaknya tak tahu siapa dan apa. Berputar mengelilingi malam, dan akhirnya duduk di bawah atap sewaan.

Mulailah percakapan santai. Seperti melahap hidangan pembuka yang renyah dan manis. Ringan, tapi mengandung makna dalam. Dan harus didalami lagi. Seperti biasa, pertemuan yang sama. Sangat biasa, mengobrol, saling pandang, akhirnya diteruskan ritual-ritual wajib kaum homoseks. Ritual yang biasa. Tak dapat ditolak. Berpagutan menyatu, meniup rambut-rambut halus nafsu, mengecup melintasi pucuk-pucuk hasrat, memeluk separuh tubuh dan segelintir jiwa, mengeluhkan kenikmatan, mereguk seteguk anggur dan ingin menambah seteguk lagi... seteguk lagi... seteguk lagi...


Hingga mabuk. Meresapi batang dan buah kejantanan masing-masing. Tanpa melihat, hanya melumat. Melahap raga hanya dengan geliat.


Tapi yang satu tak mau direnggut. Yang satu ingin merenggut. Kemauan yang tertahan. Namun selalu ada cara untuk membuat singa mengaum, hanya tinggal mengudarakan aroma daging segar. Membiarkannya mengejar.


Aku membiusnya, agar tidak memakanku. Hanya membiarkan ia menyuruhku apa yang ia mau. Menggingit, mengusap, mengguncang magma dengan jemari, hingga harus dengan kekuatan yang cukup besar, agar lahar hangat di dalamnya segera keluar.

Keluar sudah apa yang tersumbat. Lengah, lelah, berkeringat, namun tak ada kepuasan. Hingga pilihan meminta untuk memejamkan mata sejenak. Tidur dalam sentuhan antara punggung dan punggung. Tidak saling menatap, karena terlalu tak berdaya.

Getaran terus membahana, meluapkan apa yang belum selesai ditautkan. Kuraih pori-pori kulitnya dengan sentuhan dingin yang perlu dipanaskan. Ia memberi kehangatan. Membuka katup yang tertutup, tersembunyi di balik dua benua. Meresapinya dengan girang, meliuk-liukkan lidahnya sebagai kunci agar katupnya terbuka. Sebentar lagi, sesaat lagi akan terbuka, tapi perlu melicinkan terowongan yang berdinding kasar dan berukuran sempit dengan sesuatu, agar lebih mulus dijalani. Tak perlu penerangan, karena semua katup telah tertutup sempurna. Tidak memberikan ruang bagi petualang lain. Hanya ia yang merajai ruangan. Melakukan adegan-adegan mesra di atas bait-bait prosa dalam raganya. Berulang-ulang ia melakukan gerakan. Ia hanya tahu akan kenikmatan membujuk magmanya keluar kembali. Hanya itu yang ia harapkan. Tanpa merasakan, apakah terowongan yang baru saja ia lewati berguncang atau tidak. Ia hanya terus membuat dirinya mengerang, tak peduli ruangan itu gelap atau terang. Barulah ia menemukan tempat dan momen yang tepat untuk memuntahkan apa yang ingin ia muntahkan. Perjalanan panjang dan panas membuatnya mual dan lemas lagi. Kemudian, tanpa memandang jalan yang baru ia lewati, tak melihat kondisinya utuh atau runtuh, ia terlelap.


Malam kedua. Seperti yang biasa, seperti yang lainnya. Ia ingin tahu, "what inside". Namun bahkan ia tidak mengerti apa yang ada sebelum "what inside". Ia sama saja, menilai suatu hal dengan bertanya. Mengetahui makna setelah mendapatkan jawaban. Atau, berusaha mengerti sesuatu yang sulit ia mengerti. Karena aku tidak akan pernah memberikan jawaban untuknya. Ia mengenalkan dunianya ke duniaku, padahal aku sudah memiliki dunia itu. Tapi ia tidak bisa masuk dalam duniaku. Bukankah manusia selalu berpaling, berusaha mengubur hal-hal buruk yang telah dilakukannya? Sudah kubilang berkali-kali dalam pesan yang tidak pernah ia mengerti. Bahwa aku adalah dunia yang berbeda, yang harus dipupuk dahulu sebelum dipetik bunganya, yang harus disucikan dulu sebelum dikenakan. Bukan memetik jika masih ranum, dan menelan jika masih panas.

Malam ketiga. Datanglah ia karena kelelahan menghadapi sifatku. Seperti yang lainnya. Serupa dan sangat sama. Ia sangat lelah, sangat letih. Seperti layaknya saat aku mengganggunya di saat ia menganggap dirinya letih, namun di saat yang lain mengusiknya di waktu yang sama, ia menanggalkan keletihannya. Itulah malam di saat ia mengeluarkan sendiri, tanpa aku harus mengeluarkan. Karena aku tahu, sebuah potret yang ada di depanku ini masih belum bisa menyatu denganku. Sadarku di malam ketiga, meski bungaku telah layu di malam pertama. Namun, layu tidak berarti mati. Ia dapat berbunga kembali, bahkan di tengah gurun tandus sekalipun. Hanya perlu dirawat, oleh orang yang benar-benar ingin merawatnya. Di malam ketiga, ia kulepaskan. Menggenggam pasir terlalu kuat memang justru membuatnya keluar di sela-sela jemari, pelan maupun cepat.

Malam keempat. Malam yang akan menjadi malam-malam berikutnya. Karena betapapun aku mengejar rantai yang terputus, aku akan ketinggalan kesempatan yang lain. Mudah menggunakan rantainya, tapi sulit membuat dan mempertahankan kekuatannya. Terkait satu sama lain antara lingkaran-lingkaran tak sempurna. Jika terputus di satu titik, merugikan bagian yang lainnya. Aku menyanjungnya, karena aku menaruh mahkota besar di kepalanya. Dan tak akan kulepaskan darinya, karena mahkota itu memang kubuat untuknya. Sebuah penghargaan dari kebersamaan tiga malam. Yang harus kulukiskan dengan begitu indah. Meski itu semua susah. Malam berlanjut, hingga pagi bertaut...

"Selamat pagi wahai orang yang tak kukenal tapi selalu kupirkirkan. Lelaki penuh kemegahan karya yang kubanggakan, hingga menutupi ketidakmampuanku melukiskan pesonanya."

"Kusiapkan kanvas tapi selalu pudar. Kuraut pensil, tapi tak pernah bisa runcing. Kugetarkan kuas, tapi selalu patah. Bahkan kubuat warna merah alami yang akan kusapukan dengan darah. Aku siap melukismu, ciptaan agung dari Yang Agung. Tapi kau tak hadir, bahkan hingga darah itu mengering..."
(to be continued)

Senin, 19 Oktober 2009

PROLOG SEMBILAN BELAS


       Dia duduk di kursi taman tua yang sudah mulai berlumut. Siang itu sedikit gelap, karena alam beratapkan awan yang siap mendengungkan bunyi gemuruh, melintaskan kilat, menembakkan petir, lalu memuntahkan air-air hujan. 

       "Hai, mendung! Kau tampak pucat!" 

        Mendung memang sepucat batu di dekat trotoar. 

        Lalu, kilat melintas. Memotret seluruh jagad raya. 

       "Hai, kilat! Pe-De banget loe! Motret ga ijin dulu! Permisi kek, apa kek..." 

       Kilat melintas untuk kedua kalinya. Seperti balasan. 

       "Hai, kilat kedua! Sampaikan maafku untuk kilat pertama. Dan sampaikan pula maafku untuk malaikat Penurun Hujan. Oke?" 

           Lalu gemuruh mengalun membahana. Melingkupi udara dengan suara geram. 

           "Oh, halo, gemuruh! Tumben geramanmu kecil. Nggak kedengaran nih..." 

           Lalu terdengar gemuruh lagi untuk kedua kalinya. Volumenya masih sama. Masih kecil. Belum menggelegar. 

           "Kenapa? Kamu sakit ya, gemuruh? Tangisanmu pasti tidak sekencang kemarin..." 

           Dia menunggu. Masih menerawang ke angkasa. Menunggu sesuatu yang lain datang. Tapi, hanya suara gemuruh, diikuti kilat sesekali. Belum ada tanda-tanda lain. 

           "Hai, awan, kilat dan gemuruh! Mana kawanmu, petir? Dia kok absen? Atau masih tidur?" 

           Tapi ternyata hujan yang menjawabnya. Rintik-rintik kecil mulai turun. Jatuh satu per satu seperti kristal-kristal dingin yang pecah saat menyentuh bumi. 

            Dia tetap duduk di kursi yang sama. Dengan posisi yang sama, dan dengan raut wajah yang sama. 

            Lalu decit rem mobil menggertaknya. Sebuah mobil merah menyapanya dengan pelan. Seorang lelaki keluar dari dalamnya. Dia masih bisa melihat lelaki itu dengan jelas, meski matanya pedih diguyur hujan. Mengamuflasekan air matanya. 

            "Dik, kamu kehujanan. Ayo..." 

             Kemudian lelaki itu memeluk tubuh kecilnya. Mengajaknya bangun, lalu membukakan pintu mobil untuknya. 

          Di dalam mobil, lelaki itu mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celananya. Kemudian mengusap wajah orang di sampingnya dengan lembut. 

            "Tadi, lama nungguin aku?" 

            "Lama banget. Sampai aku diejekin sama awan, kilat dan gemuruh..." jawabnya. 

            Sang lelaki menghentikan usapannya, menurunkan tangannya, dan tersenyum pada orang yang ada di sampingnya. Matanya memandang tajam ke arah mata orang yang ada di sampingnya. Kemudian, satu kalimat meluncur dari bibirnya yang merah. 

           "Apakah petir juga mengejek kamu?" 

         "Tidak. Dia tidak datang. Tapi kamu yang datang..." jawabnya dengan bibir dan mata yang masih basah... (to be continued)

Selasa, 13 Oktober 2009

PROLOG LIMA

Musholla pagi itu tampak sepi, seperti halnya setiap pagi. Memang selalu sepi. Aku belum mau ke sana. Kemarin aku masih sakit hati dengan Dia.

Lalu di dalam ruang OSIS lagi, kunyalakan komputer, dan memeriksa tugas harianku. Dispensasi masih normal, tidak ada yang memalsu tanda tangan. Biasanya anak-anak iseng pemalas, sering memanfaatkan dispensasi. Agenda hari ini, tidak ada. Kosong. Tapi, pikiranku selalu penuh. Overload. Siap ditumpahkan kepada siapa saja yang akan datang ke ruangan ini.

Benar saja. Kudengar langkah kaki berlari. Keteplek-keteplek...

Bukan! Bukan sasaranku. Itu hanya mbak Aulia. Sekretaris seniorku yang pintar luar biasa. Wajah Ibrani-nya selalu membawa aura padang pasir. Kerudungnya putih hari ini. Disemat dengan bros melati di sisi kiri atas dadanya. Selalu menenteng tas kertas berisi sajadah dan mukena, yang akan ia bawa ke musholla. Ia selalu rutin ke mushola jam 8 pagi. Menyapa Dia... aku masih sedikit sakit hati kepada-Nya. Mbak Aulia mungkin tergesa-gesa. Tanpa mampir lebih dulu, tapi masih sempat tersenyum menatapku dan menyapa,

Assalamu'alaikum... (to be continued)

Senin, 12 Oktober 2009

Children of Heaven - The Natural Touch of Moslem's Children



Children of Heaven

Children of Heaven sebuah karya Majid Majidi yang memenangkan berbagai penghargaan internasional antara lain Montreal World Film Festival, Silver Screen Awards di Internasional Film Festival dan Nominasi Piala Awards 1999 untuk Best Language Film.

Sebuah kisah dari negeri Timur Tengah. Seorang anak kecil bernama Ali Mandengar (diperankan oleh Amir Farrokh Hashemian) hidup sangat sederhana di tengah-tengah keluarga bersama dengan kedua orang tuanya dan kedua adiknya.

Pada suatu ketika, di sebuah tempat sol sepatu Ali bermaksud mengambilkan sepatu adik pertamanya Zahra karena selesai diperbaiki. Kemudian ketika hendak membeli kentang di sebuah warung sepatu adiknya tersebut hilang terambil oleh seorang pemulung. Ia kebingungan.

Saat menceritakan kejadian itu kepada adiknya, adiknya menangis dan meminta Ali mencari sepatunya karena ayahnya tak mungkin mampu membelinya lagi. Ali berusaha mencarinya namun tak berhasil.

Sebagai pertanggung jawabannya Ali bersedia meminjamkan sepatunya kepada adiknya (Zahra) tersebut dengan cara bergantian memakai saat sekolah yaitu dipakai Zahra pada pagi hari dan Ali memakainya di siang hari. Ini mengakibatkan Ali sering terlambat masuk sekolah dan mendapat masalah.

Zahra masih berusaha mencari…akhirnya ia menemukannya dalam kedaan terpakai oleh anak lain dan setelah ditelusuri anak tersebut ternyata anak seorang tuna netra. Akhirnya mereka mengurungkan niatnya untuk mengambil kembali sepatu tersebut dan mereka berdua terus bergantian sepatu setiap harinya.

Suatu hari diadakan kejuaraan lari jarak jauh antar sekolah dengan hadiah ketiga berupa sepatu olah raga. Ali sangat bersemangat mengikuti lomba ini, karena ia sangat membutuhkan sepatu itu, yang rencananya akan ditukar dengan sepatu wanita, untuk diberikan kepada Zahra, adiknya tercinta.

Ali mengikuti kejuaraan tersebut meskipun pendaftarannya agak terlambat , namun diterima. Ia terus berusaha lari sekuat tenaga…lari dan terus lari…dan pada akhirnya ia justru memenangkan juara pertama…

Selasa, 06 Oktober 2009

Perbandingan Satu



Bandingkan!


Burung tidak ingin bisa menyelam, ia cukup puas dengan menguasai angkasa.
Ikan justru sangat menikmati luasnya samudra, dan tidak pernah menginginkan punya kaki untuk tahu daratan.
Kura-kura tidak ingin berjalan cepat, karena ia memiliki rumah yang harus ia bawa bawa kemana-mana.
Lebah tidak pernah meminta emas pada yang meminta madunya, karena ia bisa menghasilkannya setiap saat.
Dan pohonpun tidak diijinkan untuk menjerit, saat tubuhnya ditebang...

Manusia punya kapal selam untuk menyelami dalamnya lautan.
Manusia mampu membuat pesawat untuk menerbangi langit, bahkan menjelajah ruang angkasa.
Manusia sering memperlihatkan kemampuan 'mengebut' dengan motor atau mobilnya, padahal mereka masih punya kaki.
Manusia selalu ingin meniru, ingin melebihi orang lain dan ingin ini ingin itu.
Ingin segalanya.


Aku tentu memilih opsi kedua. Karena aku masih menjadi manusia. Atau karena itu takdir. Merubahnya adalah mungkin. Tapi selalu ada 1 yang tidak mungkin, di dalam 1000 yang mungkin...

Senin, 05 Oktober 2009

Prolog Tiga

GERRY SATYA

Ia terus memandang di balik kacamatanya. Pagi itu. Kembali ia ke sekolahnya. Seperti biasa. Ia membangunkan ayam jago yang dipelihara oleh bapaknya. Pukul empat pagi. Ia lalu melepas kacamata dan mulai mengguyur tubuhnya dengan air hangat yang sudah disiapkan emaknya.

Pukul lima pagi, tas telah siap dengan buku-buku dan dokumen-dokumen penting lainnya. Wortel dan kunci segembok. Kebutuhan belajar selama satu bulan selalu ia bawa setiap hari ke sekolah. Perlengkapan ibadah dan mandi. Semuanya.

Pukul lima lebih lima belas pagi. Sepatunya telah mengilap. Ia menemui piring melaminnya. Menunggu sejenak di dekat tungku tempat emaknya memasak nasi. Dengan senyum yang biasa, sang emak meminta piring melaminnya, kemudian mengambilkan nasi panas dari 'dandang'. Kemudian ia mengambil telur ceplok di wajan, lalu memulai sarapan rutinnya.

Pukul setengah enam, selesai menggosok gigi, ia siap berjalan menembus kabut. Sengaja ngebut meski berjalan kaki. Lima menit berikutnya, ia mendapatkan metromini langganannya. Setengah enam lebih lima menit pagi, hanya ada dia satu-satunya penumpang yang berseragam sekolah. Lainnya sibuk dengan ayam, tempe, kerupuk atau ricuh tawar-menawar antara sesama pedagang yang menuju ke pasar. Lima belas menit ia berkutat di dalam metromini, sampai ia di depan gerbang sekolah yang masih tertutup.

"Pak...!"
"Yo-yo!!! Sik!"

Gerbang akhirnya dibuka. Bahkan, sepanjang jalan di dalam sekolahnya masih dipenuhi daun-daun kering yang basah.

Ia menemui sebuah kandang kecil di depan kamar mandi guru. Ia membuka pintu kecil dari kayu, seekor kelinci mungil berbulu abu-abu meninggikan telinga merah jambu. Ia menurunkan ransel beratnya, lalu mengaduk-aduk dalamnya sampai mengeluarkan sebuah wortel kecil dan memberikannya pada kelinci abu-abu. Setelah memastikan kelinci abu-abu memulai gigitan pertama, ia meninggalkan kandang itu. 

Beralih ke ruangan terkunci. Ia menarik kursi kayu dan memanjatnya. Mengeluarkan segembok kunci dari ranselnya. Tanpa meneliti satu persatu puluhan kunci dalam lingkaran, ia langsung memasukkan satu kunci berwarna merah tembaga ke dalam lubang gembok pintu. Memutarnya hingga salah satu tuas gemboknya terangkat. Membuka sebuah ruangan yang selalu ia rindukan setiap hari... (to be continued)

Life Goes On!!!

Minggu, 04 Oktober 2009

Persamaan Gagal dan Nol, Sukses dan Berhasil



Bagaimana aplikasi "x" kuadrat dalam kehidupan? Atau, apakah yang disebut dengan perkalian 1x1=1? Ketetapan? Namun 0 dikalikan bilangan berapapun, hasilnya akan tetap nol? Nol kuadrat? Samakah dengan kegagalan yang dilipatgandakan? Benarkah, filosofi "Tujuan dikalikan Usaha = x" (x1=Sukses, x2=Gagal)? Padahal, dalam pengertian Matematis, "kosong" tidak sama dengan "nol"?

Kamis, 01 Oktober 2009



If there is a light in the soul,
There will be beauty in the person.
If there is beauty in the person,
There will be harmony in the house.
If there is a harmony in the house,
There will be order in the nation.
If there is order in the nation,
There will be peace in the world.

                             ~ Chinese Proverb

Prolog Dua



"Kesunyian memiliki tangan-tangan halus bagai sutra, namun dengan jemari yang kuat ia mencengkeram hati dan meyakini dengan derita. Kesunyian adalah sekutu derita sekaligus ketinggian jiwa..."

Jumat, 25 September 2009

Prolog Satu



GERRY SATYA

...MENUNGGU yang selalu datang, bukankah sangat mengasyikkan. Menanti yang pasti terjadi, bukankah sangat menyenangkan. Bulan terlihat separo, sedikit cahaya keperakan ia download dengan bebas dari matahari. Begitu bangga bulan itu, saat remaja-remaja seusiaku sedang berkencan, memuji tentang "lihatlah cahaya bulan itu...", dan sebagainya. Memuakkan. Tapi sudah menjadi lidah-lidah fasih yang perlu diajari bagaimana cara melafalkan huruf vokal dan konsonan. Itu biasa.

Duduk di halte dadakan yang dibuat sekolah sungguh membuat kakinya kelu. Sekelu lidahnya yang hampir 12 jam berkutat dengan segala macam kalimat di kelas, di ruang OSIS, kamar mandi, atau bahkan di setiap sudut-sudut kecil ruang yang ia temui. Itu biasa.

Pukul 18.00, masih duduk. Kadang ia berdiri melihat ke arah selatan. Apakah ada dua lampu besar menyala. Apakah ada bunyi klakson, derum mesin, lengikingan rem yang berdecit, atau teriakan-teriakan memanggil penumpang. Itu biasa.

Pukul 18.30, tiga puluh menit dari paragraf tadi. Suasana sudah berubah.
"Ga pulang?" Seorang lelaki bertubuh tegap, membuka helm-nya. Bertanya pada orang bertubuh mungil yang duduk sendirian di halte dadakan.

"Kalau aku sudah tidak di sini, aku pasti sudah pulang...," balas orang itu ketus.

"Ya sudah. Aku pulang dulu...."

"Silakan."

Itu biasa.

Pukul 19.00, ada suara derum bus dari dekat pom bensin di selatan. Mungkin itu yang ditunggunya. Benar, itu bus-nya. Dia segera menaikkan tas bahunya. Mengusap peluh di keningnya. Menyibakkan rambut hitam tebalnya yang berminyak. Dan menaikkan kacamata yang sebelumnya melorot di tengah hidung mancungnya. Siap-siap untuk pulang.

Ia menjulurkan lengannya. Tanda agar bus itu berhenti. Menaikkannya. Tapi sial. Bus itu melewatinya. Seakan angkuh, tidak mau dinaiki oleh anak sekolahan. Menyombongkan cat bodi-nya yang mengilap, atau memang dompet para personilnya sudah penuh dengan rupiah. Orang mungil berkacamata itu tidak mendapatkan bus-nya. Tapi itu biasa.

Pukul 19.30, ia menunggu bus berikutnya. Kepastian. Sungguh, kepastian untuk pulang. Ia percaya, dan itu sudah biasa.
Tapi ia terkejut. Sebuah lampu motor yang sangat terang tengah menyorotnya.

"Nggak sopan!" hanya dalam hatinya.

Ia berdiri. Seakan membuka percakapan. Menyuruh orang di balik lampu itu mengatakan alasan penyorotannya yang kurang sopan.

Lampu itu mati, bersamaan dengan suara motornya yang juga mati.
Seorang lelaki berpostur tinggi besar turun dari motornya. Motor besar itu segagah tubuh pengendaranya yang tegap. Seperti penguasa hutan yang menaiki harimau terbaiknya.

Jaket kulit moderen yang dikenakannya mengilap. Menampakkan lekuk-lekuk dadanya yang bidang. Membentuk lekukan sempurna dari bahu lebar, turun ke pinggang yang padat dan mengecil ke bawah. Dari samping bahkan tidak akan tampak lekukan sama sekali di bagian perutnya, datar.

Dari langkahnya yang mantap, seperti perwira tinggi berjalan dengan sepatu boot besar yang kuat. Saat ia berjalan, celana jeans ketat-nya memperlihatkan lekukan-lekukan selangkangan dan tonjolan jelas di tengahnya. Sangat jelas di balik kacamata, bahkan tanpa penerangan sekecil apapun. Bukankah melihat akan lebih jelas jika tidak ada keinginan untuk melihat? Spontan. Itu biasa.

Gayanya menghampiri, meredupkan segala cahaya di bumi. Meluluhkan tanah yang menjadi pijakan. Meruntuhkan debar-debar jiwa yang semula bergelantungan di tebing-tebing kosong. Menyibakkan ilalang yang meninggi di antara hati yang kering. Menumbuhkan benih tak lazim dengan tetesan segar yang memabukkan.
Satu langkahnya serasa lama. Detik jantungnya serasa berpuluh abad. Ingin dinikmati. Tidak ingin dilewatkan dengan cepat... (to be continued)

Kamis, 24 September 2009

Cerpen : Menanti Pelangi


- ANDREY AKSANA - 

Menanti Pelangi 
Oleh: Andrei Aksana
Dimuat dalam kumpulan cerpen Rahasia Bulan (GPU. 2006)


Kucari jejakku di tubuhku.
Sisa peluhmu. Derap nafasmu. Bekas gigitanmu di dada dan leherku. Telah kutempuh tamasya berahi itu. Menghakimi setiap jengkal diriku. Menjadikannya tempat menumpahkan bukti kekuasaanmu. Lelehan lengket itu pun masih terserak di selangkanganku. Damn. Baru kusadar. Bukan saatnya aku romantis.
Aku diperkosa.

Lelaki itu mengenakan jas semiformal. Di balik kemeja dengan dua kancing atas terbuka, otot dadanya tampak menggunung, mulus seperti landasan yang mengundang untuk mendarat. Daris wajahnya yang keras, menunjukkan tabuatnya yang suka menguasai, seperti sekarang saat dia mencekokiku dengan kahluia. Gayanya kasar, cenderung meremehkan, membuat siapapun takluk di bawah kharismanya. Juga aku.

"Ayo, minu lagi!" Ia terus menjejalkan gelas ke bibirku.
Aku tidak melawan. Di tengah kepenatan kerja, aku terdampar di kelab malam ini. Tidak lagi sendirian. Karena lelaki yang berdiri di sisiku di bar, terus menggerayang mendekati diriku.

Dan aku tak pernah mengetahui identitasnya, bahkan siapa namanya, berapa usianya, apa pekerjaannya, di mana rumahnya --- semua pertanyaan klise untuk mengenal seseorang. Apakah penting? Mengapa kita tidak pernah bertanya tentang hati yang membuat percaya: Jujurkah? Tuluskah?

Entah sudah gelas keberapa yang kutenggak. Kesadaranku merayap meningalkan diriku. Sebelum aku betul-betul ambruk, lelaki itu dengan sigap memapahku. Tapi sepenuhnya aku mengerti. Mabukku bukan karena busa alkohol. Karisma lelaki itulah yang serupa bius. Meracuni sel-sel otakku.

Aku seperti layangan yang terombang-ambing di udara. Diterbangkan entah untuk apa. Entah untuk kemana. Berputar-putar.

Lalu dunia ini termangu di sini. D ranjang. Berderit-derit.

Lelaki itu mengimpitku. Tanganku terlalu lemah untuk menghalaunya, sehingha malah terkulai memeluknya---seolah berpegangan pada tebing untuk mencari selamat, padahal jurang itulah yang justru siap membuatku tergelincir---bahkan aku tak sempat lagi memekik. Ada yang membobol tubuhku.

Lelaki itu lenyap begitu saja. Seperi udara. Pergi tapi tetap terasakan kehadirannya. Meninggalkanku sendirian di kamar hotel murahan ini.

Terhuyung-huyung aku menerobos kamar mandi. Di bawah pancuran kuhapus semua kenangan tentang dirinya. Kugosok bersih-bersih sekujur tubuhku. Dengan air sabun. Hanya. Itukah yang diperlukan untuk mencuci dosa?

Ketika kuseka tubuhku dengan handuk, kupahami sepenuhnya. Ada yang ta berhasil terhapuskan. Kenikmatan. Kesakitan yang nikmat. Kenikmatan yang sakit. Menjadi candu.

Dan candu itu membuatku tak bisa berkelit. Kita tidak pernah mendendam pada yang pertama memberi kenikmatan, bukan?
Hanya berusaha memahami, mencerna satu pelajaran baru yang memabukkan. Seperti aku yang ketagihan. Menginginkan. Lagi. Dan lagi.

Aku tak pernah mencari lelaki itu untuk menuntut tanggung jawab. Klise. Kupikir ia justru membukakan mataku menemukan dunia yang kucari. Dunia lelaki yang hanya mencari kepuasan. Peristiwa itu memberi sudut pandang baru. Berkencan dengan lelaki lebih mudah dibandingkan dengan perempuan. Ternyata.

Risiko minimal. Tanpa takut hamil. Tanpa cemas dipaksa menikahi. Bahkan tak perlu merogoh dompet. Semua dilakukan atas dasar suka sama suka.
Gelepas itu semakin kuat memukul-pukul dada dan kepalaku. Kebutuhan untuk melakukannya. Mengulangi. Petualangan itu pun dimulai.

Di toilet mal.

Berdiri bersisian di depan urinoar. Diawali kerlingan mata. Saling melihat dan mengukur perangkat masing-masing. Belakangan kutahu istilahnya adalah "saling mencontek". Setelah sama-sama cocok dan melihat situasi aman, kami langsung menyerbu bilik WC yang kosong. Melakukannya sambil berdiri. Duduk di atas closet. Bukan hanya hati kami yang tegang, tapi juga sekujur ujung tubuh kami. Mendebarkan. Memuaskan.

Di kolam renang.

Begitu banyak mata kelaparan. Mulut-mulut yang dahaga. Ada yang bekat menyelam agar bisa berlutut di bawah pinggangku. Aku dibuntuti sampai loket. Berakhir dengan mandi bersama di bawah shower. Basah dalam arti sebenar-benarnya. Terhujani dan menghujani.

Di dalam lift.

Di antara desakan, di balik punggung-punggung yang tak peduli sekeliling, tangan-tangan terampil menyekap celanaku. Jemari-jemari lincah lincah menari di balik risleting. Aku mengerang. Mengaum. Merelakan diriku dimangsa binatang buas bernama laki-laki. Suaraku tertelan hiruk-pikuk arus yang bergegas keluar lift. Kalah oleh kebisingan kota yang tak pernah reda.
Lalu candu itu semakin menggiringku ke dalam lingkaran yang membelenggu. Aku mulai bergaul dengan kaum penikmat. Karena kepuasan ternyata selalu mencari parameter yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Dan aku terperosok ke dalam obsesi itu.
Aku ikut bergerombol, nongkrong di kafe mencari mangsa, terlibat pembicaraan khas mereka. Mencari teman tidur yang ideal.

Harus yang gede, supaya terasa. Lubang hanya bisa disumbat dengan semua yang besar kan? Supaya tidak bocor.
Andri, announcer.

Aku mencatat pelajaran baru: size matters. Ternyata bukan cuma perempuan yang membutuhkannya.

Yang pasrah kalo saya apa-apain. Rela jadi boneka saya. Indra, publisher.

Dibutuhkan pihak yang mau dikalahkan. Salah satu harus dominan.

Dia harus bisa menaklukkan aku, karena aku kuda bunal yang harus dijinakkan. Dia harus bisa membuatku serasa remuk dan lumer.
Dandy, banker.

Yang suka mukulin pantat eike. Makin keras, eike makin nafsu, booo. Chepi, banci salon.

Tenaga. Kekuatan. Seperti pertandingan. Hanya itu yang memuaskan ego laki-laki.

Stres bikin gue jadi begini. Gue harus mencari penyaluran. Haris, lawyer.

Aku masih tak habis pikir. Selama ini aku salah menilai orang-orang di sekitarku. Di balik kemeja licin, dasi mewah dan jas eksklusif, ternyata mereka menyimpan fantasi liar. Kedudukan, jabatan, popularitas tak menjamin kenormalan pikiran seseorang. Penampilan tak selalu menunjukkan apa yang ada di dalam diri. Apakah kita harus menjadi banci dulu, berdandan seperti perempuan, supaya bisa jujur?

Yang kaku duoong...!!! Yang macho, nggak ngondek... jadi bisa bikin eike merasa aman terlindungi... Gathan, clubber.

Laki-laki sejati yang bisa bikin gue serasa jadi cewek paling happy. Roger, dancer.

Yang bisa mengabdi dan memuaskan saya seperti seorang istri. Pras, aktor.

Gue nyari yag bottom, karena gue top. Dia harus mau dimasukin, kapan pun gue kepingin, dan dia harus pinter ganti-ganti gaya. Tendangan gue hot. Mau nyoba?
Jash, marketing executive.

Dan aku termangu mendengarnya. Pantaskah hubungan seperti ini disebut berpasangan? Bukankah hanya segala yang berbeda dan saling melengkapi yang layak dan normatif disahkan berpasangan?Langit dan bumi. Api dan air. Malam dan pagi...
Tapi laki-laki dan laki-laki?
Apakah esensi?
Kalau masih mencari pihak yang diperempuankan, ngapain juga ngeseks dengan sesama laki-laki? Mengapakah masih juga mencari fungsi lawan jenis?

Top dan bottom.
Macho dan ngondek.
Maskulin dan feminin.
Dimasuki dan memasuki.
Perjalanan ini malah membuatku semakin tersesat. Jawaban justru menimbulkan pertanyaan baru. Lebih baik aku tutup mulut. Langitku tetap kelabu.

Sampai aku bertemu denganya. Lelaki yang tak mau kuajak tidur pada saat kencan pertama.
"Ada yang lebih dari seks dalam hubungan seperti ini," ujarnya meyakinkanku. Menepis tanganku yang nakal. Menjauhkan mulutku yang ganas.

Kumulai babak baru. Love matters. Ikatan di antara kami dibangun di atas perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya one big shot, saling tukar pandang, grabak-grubuk lalu selesai.
Nilai. Itu yang kurasakan saat bersamanya.

"Sekarang kita telah siap," begitu katanya suatu hari.
Dengan senyum dan tatapan yang membuat seluruh duniaku terasa benderang. Inikah pelangi yang kunanti? Yang mampu menepis mendung dan kabut di hatiku? Yang menjanjikan warna dan nuansa?

Lalu aku dan dia memutuskan check-in di hotel mewah untuk merayakan malam pertama kami, meskipun tak perlu sampai gunting pita segala.

Aku memanjat ranjang. Ia menanggalkan baju. Kami seperti pengantin baru yang siap mereguk madu kemesraan. Ia merayap mendekatiku. Tak ada lagi yang mampu menghalangi kami. Kami telah sama-sama telanjang. Bahkan sehelai benang pun tak sanggup memisahkan kami lagi.

Aku akan mencintainya dengan utuh. Dengan seluruh. Aku berjanji. Akan kuakhiri petualangan sampai disini. Awan keraguan telah tersingkir. Kutambatkan hidupku. Meraih pelangiku. Memastikan segenap janji. Dan saat itu aku tertegun. Seperti pintu yang terbuka tapi tak ada yang memasuki. Aku dan dia sama-sama terlentang dengan kaki mengangkang. (Andrei Aksana)

Andrei Aksana, Seniman Kantoran yang Multitalenta


LAJANG kelahiran Jakarta 19 Januari 1977 ini termasuk generasi baru penulis berbakat yang karyanya banyak dinanti pembaca. Tiap novelnya selalu dicetak ulang. Uniknya, buku-bukunya selalu disisipi CD berisi soundtrack lagu yang dinyanyikannya. Cerita tentang pembacanya pun begitu heboh.

Sejak kapan sih Anda suka menulis?

Sebenarnya sudah sejak SD saya suka menulis cerpen. Anehnya, cerpen yang saya bikin selalu hilang setelah saya taruh di laci belajar saya. Saya sampai marah-marah tapi tidak ada orang di rumah yang tahu. Salah satu cerpen yang selamat, saya kirimkan ke majalah Kawanku dan dimuat. Judulnya Prasangka.

Bukannya dapat pujian, saya malah dimarahi Mama, Nina Pane. Katanya, “Ngapain kamu nulis cerpen begitu.” Dimarahi seperti itu, saya tentu saja takut. Sempat saya berhenti menulis. Meski begitu, terkadang saya curi-curi waktu bikin cerpen, meski terus saja hilang tanpa ketahuan rimbanya. Semasa SMA, satu cerpen lagi berhasil selamat dan ketika saya kirim di majalah Mode, ternyata dimuat juga.

Kenapa sih Mama melarang Anda menulis. Padahal, beliau kan pengarang kenamaan?

Mama memang penulis novel (Nina Pane Budiarto termasuk novelis kenamaan yang karyanya sering diangkat di layar kaca, misalnya Serpihan Mutiara Retak. Ia juga penulis skenario film andal). Opung saya, Sanoesi Pane dan Armijn Pane, juga dikenal sebagai pujangga di masanya. Namun, Mama tidak suka saya jadi penulis. “Kamu jangan suka menulis karena jadi penulis itu hanya ada dua kemungkinan, yaitu miskin atau gila.”

Wah, seram juga peringatan Mama. Kebetulan, dari tiga bersaudara yang semuanya lelaki, saya anak nomor dua, hanya saya yang suka menulis. Mama melarang saya mungkin karena berdasarkan pengalaman pribadi, suka menyendiri saat keinginan menulis muncul. Bila mood menulis muncul, Mama suka lupa anak. Enggak mau diganggu. Nah, Mama tidak mau saya seperti itu.

Anda tidak protes?

Tidak. Saya tahu, semua itu demi kebaikan saya. Namun, saya suka bandel juga. Waktu kuliah di Desain Grafis, Universitas Udayana, Bali, saya pernah menulis novel. Saya bebas menulis karena jauh dari orangtua yang tinggal di Jakarta. Waktu zaman top-topnya Hilman dan Zara Zettira ZR itu, saya menyelesaikan satu novel berjudul Mengukir Mimpi Terlalu Pagi. Naskah itu saya kirimkan ke Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan diterbitkan tahun 1992.

Kembali Mama menegur. “Kamu mau jadi sarjana atau ingin jadi miskin?” Wah, dalam hati takut juga dimarahi seperti itu. Kembali saya stop menulis. Sebenarnya, hanya soal ini saja Mama keras. Selebihnya, dia sangat menyayangi dan memperhatikan kami. Sering kami liburan bersama. Kebetulan Papa, Jopie Budiarto, bekerja di perusahaan Korea yang memungkinkan kami sering berlibur ke luar negeri.

Sampai saya lulus SMA, saya pernah liburan ke Amerika, beberapa negara Eropa, Asia. Tapi, belum sekali pun saya liburan ke tempat wisata di negeri sendiri. Makanya, saya memilih kuliah di Bali.

Lantas, bagaimana ceritanya Anda jadi penulis betulan?

Panjang juga ceritanya. Lulus kuliah, saya pulang ke Jakarta. Saya langsung dapat pekerjaan di perusahaan ritel internasional. Karier saya sungguh bagus. Hanya beberapa tahun, saya sudah menjadi marketing director. Saya memang menikmati pekerjaan saya, tapi ada satu hal yang rasanya kurang yaitu menulis.

Suatu saat saya bilang pada Mama, “Semua sudah saya lakukan untuk Mama. Jadi sarjana dan karier di kantor bagus. Sekarang, saya ingin juga melakukan sesuatu yang saya sukai, yaitu menjadi penulis.” Mama tidak komentar lagi. Di buku kedua yang saya tulis, Mama merestui. Mama pun menceritakan misteri naskah cerpen saya yang selama ini hilang. Ternyata, selama ini Mama yang merobek-robek cerpen saya.

Bisa cerita proses come back Anda di penulisan novel?

Jarak novel pertama dan kedua memang jauh, ya. Suatu ketika, pas masa pencarian diri, saya pernah punya keinginan menjadi penyanyi. Saya pun bertemu dengan Chossy Pratama (seorang pencipta lagu terkenal, banyak lagu-lagunya populer di masyarakat). Kami sempat membicarakan album yang mau dibikin.

Lalu Om Chossy memintaku membuat materi video klip. Om Chossy berkomentar, cerita yang saya tulis bagus. “Kalau begitu, kamu harus nulis novel dulu. Pria penyanyi, kan, banyak, tapi yang sekaligus novelis masih jarang.” Begitulah, saya akhirnya membuat novel, judulnya Abadilah Cinta.

Kenapa Anda menyisipkan CD di novel itu?

Film dan sinetron, kan, sudah biasa ada soundtrack-nya, tapi setahu saya, belum ada novel yang ada soundtrack-nya. Nah, CD itu berisi lagu yang saya nyanyikan sendiri. Lagunya diciptakan Om Chossy. Ternyata, sambutan pasar sangat bagus. Hanya dalam waktu lima hari novel terbitan GPU ini cetak ulang.

Anda tambah semangat dong?

Betul. Setahun, novel saya bisa terbit 2-3 kali. Ada teman yang mengkritik saya aji mumpung. Sebenarnya, sih, tidak. Saya, kan, seperti air yang sekian lama disumbat. Begitu keran dilepas, air pun mengalir deras.

Untuk pembeda dengan novel lain, saya hampir selalu menyertakan CD soundtrack lagu. Ternyata, banyak sisi positifnya. CD itu menjadi semacam penyelamat karena buku saya jadi susah dibajak.

Karya-karya Andrei antara lain Cinta Penuh Air Mata (2003), Lelaki Terindah (2004), Sebagai Pengganti Dirimu (2004), Pretty Prita (2005), Karena Aku Mencintaimu (2006), Hanya dengan Cinta, 20 tahun Chossy Pratama Berkarya (2007), Janda-Janda Kosmopolitan (2009, cerbung di Kompas).

Bagaimana tanggapan pembaca?

Rata-rata bagus dan banyak cerita seru. Novel saya kan ada beberapa kategori. Ada drama romantis dan chicklit. Untuk novel drama, saya mendapat banyak pembaca yang aneh-aneh, semuanya pembaca wanita. Ada yang ingin ketemu saya, kalau enggak bisa mau bunuh diri. Ada juga pembaca yang ingin saya yang pertama kali mengucapkan selamat ulang tahun.

Wah, seru sekali.

Lebih gawat lagi saat jumpa pembaca. Usai acara, ada pembaca yang memeluk saya sambil menangis. Pokoknya saya enggak boleh pulang. Sampai-sampai ia nekat masuk ke mobil saya. Terpaksa diamankan satpam. Saat di Makassar, kamar saya sampai diketok-ketok. Ada beberapa gadis yang nungguin di lobi sampai larut malam.

Ada lagi mahasiswi yang sampai menyebarkan cerita di kampusnya, dia dan saya pacaran. Padahal, saya baru saja kenal dengannya saat jumpa pembaca di sebuah universitas swasta di Yogyakarta. Keluarganya sampai ikut “meneror” saya. Pernah keluarganya telepon, saya harus bertanggung jawab karena gadis itu sakit gara-gara saya. Terpaksa pihak penerbit menjelaskan, semua itu tidak benar. Menurut editor saya, Mbak Hetih, hanya saya yang menjumpai pengalaman seru dengan pembaca.

Kenapa sih bisa seperti itu?

Saya enggak tahu, mungkin mereka terbawa dengan cerita dalam novel saya. Mereka tidak bisa membedakan antara fiksi dan fakta. Saya bilang pada editor, repot juga kalau pembaca saya seperti itu. Saya pun mencoba membuat novel jenis metro pop. Pembacanya kebanyakan wanita karier dan cewek yang suka hang out.

Omong-omong, Anda menyesal enggak sih dengan larangan Mama dulu?

Oh tidak. Saya malah beruntung. Dengan kerja kantoran, saya menjadi seniman yang disiplin, dalam arti hidup saya teratur. Di kantor, sekarang saya memegang PR dan marketing, membawahi beberapa brand. Saya bisa membagi waktu untuk urusan kantor dan menulis. Kebetulan saya enggak suka dugem. Pulang kantor, saya masih sempat fitness. Selain itu, saya suka tenis dan lari. Malamnya, mulai pukul 21.00 saya menulis.

Anda kok masih betah melajang?

Namanya pasangan suami-istri kan mesti mengalah. Nah, saya masih menunggu kesadaran diri saya untuk mengalah pada pasangan. Saat ini saya belum bisa. Saya masih menikmati dunia menulis. Sekarang pacar saya laptop, ke mana-mana selalu saya bawa. Ha-ha-ha.

Di sela kesibukan, saya suka travelling. Hasil royalti selain ditabung saya gunakan untuk jalan-jalan. Belum lama ini saya cuti ke Vietnam. Dengan jalan-jalan, sekaligus saya mencari inspirasi.

Selasa, 22 September 2009

Satu Bantahan Lagi terhadap Dongeng tentang Organ Sisa


HARUN YAHYA -- Darwinisme menganggap seluruh kehidupan di bumi sebagai suatu hasil mutasi tak-disengaja dan seleksi alam dan, sebagai keyakinan yang bersifat praduga, meniadakan keberadaan perancangan cerdas. Dengan tujuan membantah adanya perancangan, pemikir Darwinis mencari-cari cacat pada keseluruhan seluk-beluk yang saling terkait dari makhluk hidup. Dari Darwin hingga Dawkins, berulang-ulang, sikap dogmatis ini telah membuat evolusionis tersebut bersikukuh tentang keberadaan struktur cacat dan organ-organ sisa (vestigial) "yang tidak memuliki kegunaan", yang bersifat praduga, pada makhluk hidup. Namun, berkali-kali juga, pengakuan berani dari para evolusionis tersebut ternyata malah menjadi bukti ketidaktahuan mereka. Organ-organ sisa yang diduga [sia-sia] tersebut kemudian ditemukan memerankan fungsi sangat penting dan keseluruh pendapat mengenai "organ sisa" ternyata merupakan buah pikiran yang keliru.

Sejarah ilmu pengetahuan mencatat adanya penyusutan terus-menerus dalam jumlah organ-organ yang dianggap sisa ini (organ vestigial). Organ-organ yang diduga tidak memiliki fungsi tersebut, satu demi satu, ternyata merupakan organ-organ dengan fungsi yang belum ditemukan. Sebuah daftar organ-organ sisa yang dibuat oleh ahli anatomi Jerman, R. Wiedersheim pada tahun 1895 memuat sekitar 100 struktur, termasuk usus buntu dan tulang ekor. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan, ditemukan bahwa semua organ dalam daftar Wiedersheim ternyata memiliki fungsi amat penting. Misalnya saja, telah ditemukan bahwa usus buntu, yang disangka "organ sisa", kenyataannya merupakan bagian dari sistem limfatik. Sebuah publikasi kedokteran pada tahun 1997 menyebutkan bahwa, "organ dan jaringan tubuh lainnya – thymus, hati, limpa, usus buntu, sumsum tulang, dan sejumlah kecil jaringan limfatik seperti amandel di tenggorokan dan bintik-bintik Peyer di dalam usus halus – juga merupakan bagian dari sistem limfatik. Sistem ini juga membantu tubuh melawan infeksi.

Telah ditemukan pula bahwa amandel, yang juga dimasukkan dalam daftar organ sisa yang disusun Wiedersheim, memiliki tugas penting dalam melindungi tenggorokan melawan infeksi, terutama hingga usia remaja. Telah ditemukan bahwa tulang ekor pada bagian bawah dari ruas tulang belakang menyangga tulang-tulang di sekitar panggul dan merupakan titik pertemuan dari beberapa otot kecil dan karenal alasan ini, tidaklah mungkin untuk duduk nyaman tanpa tulang ekor.

Di tahun-tahun setelahnya, disadari bahwa thymus membangkitkan kerja sistem kekebalan di dalam tubuh manusia dengan memicu bekerjanya sel-sel T, bahwa kelenjar pineal bertugas mengeluarkan sejumlah hormon penting, bahwa kelenjar tiroid sangat berperan dalam menjaga pertumbuhan teratur pada bayi dan anak, dan bahwa kelenjar pituitari bertugas memastikan bekerjanya secara benar dari banyak kelenjar hormon. Semuanya ini awalnya sempat dianggap sebagai "organ sisa". Akhirnya kelopak mata, yang dianggap sebagai organ sisa oleh Darwin, diketahui ternyata bertugas membersihkan dan meminyaki mata.

Berkurangnya secara terus-menerus pada daftar organ sisa merupakan akibat dari kenyataan bahwa ini merupakan pendapat yang disebabkan karena ketidaktahuan. Sejumlah evolusionis yang lebih bijak juga menjadi sadar akan kenyataan ini. S. R. Scadding, ia sendiri seorang evolusionis, pernah menulis dalam artikelnya "Can vestigial organs constitute evidence for evolution?" [Dapatkah Organ-organ Sisa Menjadi Bukti bagi Evolusi] yang diterbitkan dalam jurnal Evolutionary Theory [Teori Evolusi]:

Dikarenakan tidak mungkin untuk secara pasti mengenali bentuk-bentuk tak berguna, dan dikarenakan rumusan pendapat yang digunakan secara ilmiah tidak dapat diterima, saya menyimpulkan bahwa "organ sisa" tidak dapat memberi bukti khusus bagi teori evolusi.

KAKI KUDA

Bantahan terkini terhadap kisah tentang organ peninggalan datang dari sebuah penelitian terbaru tentang kaki kuda. Sebuah tulisan pada majalah Nature terbitan tanggal 20-27 Desember 2001, berjudul: "Biomechanics:
Damper for Bad Vibrations" [Biomekanika: Peredam untuk Getaran yang Membahayakan], menyatakan bahwa, "Sejumlah serat otot pada kaki-kaki kuda tampak seperti sisa peninggalan evolusi tanpa kegunaan. Namun kenyataannya [serat-serat otot] tersebut mungkin berperan meredam getaran bersifat merusak yang muncul pada kaki ketika kuda berlari." Tulisan tersebut berbunyi:

Kuda dan unta memiliki otot-otot pada kaki-kaki mereka dengan tendon yang panjangnya melebihi 600 -milimeter dan terhubungkan dengan serat-serat otot yang panjangnya kurang dari 6 milimeter. Otot-otot pendek semacam itu dapat memanjang hanya sampai beberapa milimeter saja ketika sang hewan bergerak, dan tampaknya mustahil memiliki banyak kegunaan bagi mamalia besar. Tendon-tendon tersebut berfungsi sebagai pegas-diam, dan dianggap bahwa serat-serat otot pendek tersebut berlebih, sisa peninggalan dari serat-serat lebih panjang yang telah kehilangan perannya selama berlangsungnya peristiwa evolusi. Tetapi Wilson dan rekan-rekannya membantah... bahwa serat-serat ini mungkin melindungi tulang dan tendon dari getaran-getaran yang dapat merusak...

Percobaan-percobaan mereka menunjukkan bahwa serat-serat otot pendek dapat meredam getaran merusak yang muncul karena tumbukan kaki pada permukaan tanah. Ketika kaki seekor hewan yang sedang berlari menumbuk tanah, benturan tersebut mengakibatkan kaki bergetar; frekuensi getaran tersebut cukup tinggi – misalnya, 30-40 Hz pada kuda – pengulangan getaran akan terjadi berkali-kali ketika kaki sedang menginjak tanah jika tidak ada peredam.

Getaran tersebut berkemungkinan menyebabkan kerusakan, karena tulang dan tendon rentan terhadap kerusakan akibat kelelahan-berlebih. Kelelahan-berlebih pada tulang dan tendon merupakan kumpulan kerusakan akibat tegangan atau tekanan yang dikenakan berulang-ulang. Kelelahan-berlebih pada tulang adalah penyebab keretakan akibat tekanan atau tegangan yang diderita baik oleh olahragawan maupun kuda pacuan, dan kelelahan-berlebih pada tendon mungkin dapat menjelaskan setidaknya beberapa kasus radang tendon. Wilson dkk. berpendapat bahwa serat-serat otot yang sangat pendek
tersebut melindungi baik tulang maupun tendon dari kerusakan akibat kelelahan-berlebih dengan meredam penuh getaran...


Singkatnya, pengamatan lebih dekat pada anatomi kuda mengungkap bahwa bagian-bagian tubuh yang dianggap tidak memiliki peran oleh para evolusionis, mempunyai peran yang sangat penting. Dengan kata lain, kemajuan ilmiah menunjukkan bahwa apa yang dianggap sebagai bukti evolusi ternyata merupakan bukti bagi perancangan.

Para evolusionis seharusnya mengambil petunjuk dari kenyataan ini, jika mereka mau. Ulasan berikut ini yang dimuat dalam majalah Nature terlihat masuk akal:

Wilson dkk. telah menemukan satu peran penting dari sebuah otot yang tampak sebagai sisa dari sebuah bagian yang telah kehilangan kegunaannya selama berlansungnya peristiwa evolusi. Penelitian mereka membuat kita bertanya-tanya apakah organ-organ sisa lain (seperti usus buntu manusia) terlihat pula tidak memiliki kegunaan.

Hal ini tidaklah mengejutkan. Semakin banyak kita belajar tentang alam, semakin banyak pula kita saksikan bukti ciptaan Allah. Sebagaimana Michael Behe katakan, "kesimpulan tentang perancangan datang bukan dari apa yang kita tidak tahu, akan tetapi dari apa yang telah kita pelajari selama lebih dari 50 tahun yang lalu."5 Dan Darwinisme ternyata merupakan sebuah pendapat yang berakar dari ketidaktahuan, atau, dengan kata lain, sebuah "ateisme yang berasal dari jurang ketidaktahuan"

Perangkat Penerbangan Hebat pada Serangga


Harun Yahya 


Bagaimana seekor ganjurmampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Bagaimana seekor kutu melompat sejauh ratusan kali ukuran tinggi tubuhnya? Mengapa seekor kupu-kupu terbang maju sementara sayapnya mengepak ke atas dan ke bawah?

Lalat adalah satu di antara hewan-hewan yang disebut di dalam Al Qur’an, sebagai satu saja dari banyak satwa yang mengungkap pengetahuan tak terbatas Tuhan kita. Allah Yang Mahakuasa berfirman tentang hal ini dalam ayat ke-73 surat Al Hajj:

Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan. Maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak akan dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah. (QS. Al Hajj, 22:73)

Meskipun telah dilakukan penelitian terkini, walaupun seluruh teknologi telah Allah berikan kepada manusia, amat banyak ciri makhluk hidup yang masih menyimpan sisi-sisi menakjubkannya. Sebagaimana pada segala sesuatu yang telah Allah ciptakan, dalam tubuh seekor lalat memperlihatkan bukti melimpah pengetahuan mahatinggi. Dengan mengkaji seluk beluknya, siapa pun yang berpikir akan mampu sekali lagi merenung di atas kekagumannya yang mendalam kepada Allah dan ketaatan kepadaNya.

Sejumlah penelitian yang telah dilakukan para ilmuwan terhadap perangkat penerbangan lalat dan serangga-serangga kecil lainnya diuraikan di bawah ini. Kesimpulan yang muncul darinya adalah tiada kekuatan acak, coba-coba atau wujud selain Allah yang mampu menciptakan kerumitan seekor serangga sekalipun.

Otot terbang dari banyak serangga seperti belalang dan capung mengerut sangat kuat akibat rangsangan yang ditimbulkan saraf-saraf yang mengendalikan setiap gerakannya. Pada belalang, misalnya, sinyal-sinyal kiriman setiap saraf menyebabkan otot-otot terbang mengerut. Dengan bekerja bergantian, tidak saling berlawanan, dua kelompok otot yang saling melengkapi, yang dinamakan elevator (pengangkat) dan depresor (penurun), memungkinkan sayap-sayap terangkat dan mengepak ke bawah. Belalang mengepakkan sayapnya 12 hingga 15 kali per detik, dan agar dapat terbang serangga-serangga lebih kecil harus mengepakkan sayapnya lebih cepat lagi. Lebah madu, tawon dan lalat mengepakkan sayap 200 hingga 400 kali per detik, dan pada ganjur dan sejumlah serangga merugikan yang berukuran hanya 1 milimeter (0.03 inci), kecepatan ini meningkat ke angka mengejutkan 1000 kali per detik! Sayap-sayap yang mengepak terlalu cepat untuk dapat dilihat mata manusia telah diciptakan dengan rancangan khusus agar dapat melakukan kerja yang terus-menerus semacam ini.

Sebuah saraf mampu mengirim paling banyak 200 sinyal per detik. Lalu bagaimana seekor serangga kecil mampu mengepakkan sayapnya 1000 kali per detik? Penelitian telah membuktikan bahwa pada serangga-serangga ini, tidak terdapat hubungan satu-banding-satu antara sinyal dari saraf dan jumlah kepakan sayap per satuan waktu.

Pada perangkat istimewa ini, yang masing-masing diciptakan tersendiri pada tubuh setiap serangga, tak dijumpai ketidakteraturan sedikit pun. Saraf-sarafnya tidak pernah mengirim sinyal yang salah, dan otot-otot serangga senantiasa menerjemahkannya secara benar.

Pada jenis seperti lalat dan lebah, otot-otot yang memungkinkan terbang bahkan tidak menempel pada pangkal sayap! Sebaliknya, otot-otot ini melekat pada dada melalui pengait yang berperan seperti engsel, sedangkan otot-otot yang mengangkat sayap ke atas melekat pada permukaan atas dan bawah dada. Saat otot-otot ini mengerut, permukaan dada menjadi rata dan menarik pangkal sayap ke bawah. Permukaan samping sayap memberikan peran penyokong sehingga memungkinkan sayap-sayap terangkat. Otot-otot yang menimbulkan gerakan ke bawah tidak melekat langsung pada sayap, tapi bekerja di sepanjang dada. Ketika otot-otot ini mengerut, dada tertarik kembali ke arah berlawanan, dan dengan cara ini sayap tergerakkan ke bawah.

Engsel sayap tersusun atas protein khusus yang dikenal sebagai resilin, yang memiliki kelenturan luar biasa. Karena sifatnya jauh mengungguli karet alami ataupun buatan, para insinyur kimia berupaya membuat tiruan bahan ini, di laboratorium. Saat melentur dan mengerut, resilin mampu menyimpan hampir keseluruhan energi yang dikenakan padanya, dan ketika gaya yang menekannya dihilangkan, resilin mampu mengembalikan keseluruhan energi itu. Alhasil, daya guna (efisiensi) resilin dapat mencapai 96%. Saat sayap terangkat, sekitar 85% energi yang dikeluarkan disimpan untuk saat berikutnya; energi yang sama ini kemudian digunakan kembali dalam gerakan ke bawah yang memberikan daya angkat ke atas dan mendorong sang serangga ke depan. Permukaan dada dan ototnya telah diciptakan dengan rancangan istimewa untuk memungkinkan pengumpulan energi ini. Namun, energi tersebut sesungguhnya disimpan pada engsel yang terdiri atas resilin. Sudah pasti mustahil bagi seekor serangga, dengan usahanya sendiri, melengkapi diri sendiri dengan peralatan luar biasa untuk terbang. Kecerdasan dan kekuatan tak terhingga Allah telah menciptakan resilin istimewa ini pada tubuh serangga.

Untuk penerbangan yang mulus, gerakan lurus ke atas dan ke bawah saja tidaklah cukup. Agar dapat memunculkan gaya angkat dan gaya dorong, sayap haruslah pula mengubah sudut gerakannya di setiap kepakan. Sayap-sayap serangga memiliki kelenturan berputar yang khas, tergantung jenisnya, yang dimungkinkan oleh apa yang disebut sebagai direct flight muscles (otot-terbang kemudi), disingkat DFM yang menghasilkan gaya-gaya yang diperlukan untuk terbang.

Ketika serangga berupaya naik lebih tinggi di udara, mereka memperbesar sudut sayap mereka dengan mengerutkan otot-otot di antara engsel-engsel sayap ini secara lebih kuat. Rekaman gambar berkecepatan-tinggi dan gerak-terhenti memperlihatkan bahwa selama terbang, sayap-sayap tersebut bergerak mengikuti lintasan lingkar-telur dan untuk setiap kali putaran sayap, sudutnya berubah secara teratur. Perubahan ini disebabkan pergerakan yang senantiasa berubah dari otot-terbang kemudi dan penempelan sayap pada tubuh.

Masalah terbesar yang dihadapi jenis serangga sangat mungil ketika terbang adalah hambatan udara. Bagi mereka, kerapatan udara sangat besar menjadi rintangan yang tidak bisa diremehkan. Selain itu, lapisan penghambat di sekeliling sayap menyebabkan udara melekat pada sayap dan mengurangi kedayagunaan (efisiensi) terbang. Agar dapat mengatasi hambatan udara ini, serangga-serangga seperti Forcipomya, yang lebar sayapnya tak lebih dari 1 milimeter, harus mengepakkan sayap 1000 kali per detik.

Para ilmuwan percaya bahwa secara teori, kecepatan ini pun tidaklah cukup menahan serangga-serangga ini tetap di udara, dan mereka pastilah menggunakan perangkat tambahan lainnya. Pada kenyataannya, Anarsia, sejenis serangga merugikan, menggunakan cara yang dikenal sebagai 'beat and shake' (mengepak dan menggoyang). Ketika sayap-sayapnya mencapai titik tertinggi dalam gerakannya ke atas, sayap-sayap ini saling mengepak dan kemudian membuka ke bawah kembali. Di saat sayap-sayap ini (dengan jaringan pembuluh darahnya) membuka, aliran udara depan membentuk pusaran mengitari sayap-sayap tersebut dan dengan kepakan sayap membantu daya angkat.

Banyak jenis serangga, termasuk belalang, memperhatikan apa yang ditangkap penglihatannya seperti garis kaki langit (horizon) untuk menentukan arah terbang dan tujuan akhirnya. Untuk mengokohkan keseimbangan kedudukannya, lalat telah diciptakan dengan rancangan yang lebih luar biasa lagi. Serangga-serangga ini memiliki hanya sepasang sayap, tapi di sisi belakang masing-masing sayap itu terdapat tonjolan melingkar yang dikenal sebagai halter (pengekang). Meskipun tidak menghasilkan gaya angkat, pengekang ini bergetar bersama sayap-sayap depan. Di saat serangga mengubah arah terbangnya, tonjolan sayap ini mencegahnya menyimpang dari jalur perjalanan.

Seluruh pengetahuan yang dipaparkan di sini dihasilkan dari penelitian terhadap kemahiran terbang tiga atau empat jenis serangga saja. Perlu diketahui bahwa keseluruhan jenis serangga di bumi berjumlah sekitar 10 juta. Dengan mempertimbangkan seluruh jutaan jenis selebihnya ini, beserta keistimewaan tak terhitung yang dimilikinya, seseorang pasti semakin bertambah kekagumannya akan kehebatan Allah yang tak terhingga.

Pemecahan Masalah bagi Gangguan Vena dari Gen Kutu

Para ilmuwan telah berhasil memisahkan gen resilin dari lalat buah dan berhasil membuat salinan protein ini secara alamiah dengan mencangkokkan gen tersebut ke dalam bakteri Escherichia coli.

Dalam penelitian yang dilakukan the Australian Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO), (Organisasi Penelitian Ilmiah dan Industri Persemakmuran Australia), para ilmuwan yang berhasil menemukan gen yang menghasilkan resilin serangga juga menemukan polimer hebat yang mungkin berguna dalam penanganan penyakit pembuluh darah vena. Pengkajian yang berawal di tahun 1960-an, yang dipusatkan pada belalang dan capung padang pasir, merupakan pendorong kuat yang memajukan tahap terpenting ini.

Resilin, yang juga memberikan kutu kemampuan untuk membuat lompatan luar biasa, melengkapi belalang dan capung padang pasir, serta serangga lain keahlian bergerak yang mengejutkan. Berkat zat ini, kutu mampu melompat beratus-ratus kali tinggi tubuhnya sendiri dan sejumlah lalat dapat mengepakkan sayapnya lebih dari 200 kali per detik.

Protein yang diperoleh dari resilin jauh lebih baik dari produk karet berkualitas tertinggi dalam hal kemampuannya menahan tekanan dan kembali ke bentuk asalnya. Penelitian yang berkelanjutan tentang resilin tiruan menunjukkan bahwa protein tersebut tetap memiliki sifat-sifat ini.

Para ilmuwan menyatakan keyakinannya bahwa polimer yang didapatkan dari pencangkokkan gen-gen serangga dapat diterapkan di aneka bidang yang sangat beragam, dari kedokteran hingga industri. Namun, mungkin yang terpenting dari penerapan ini adalah penanganan penyakit pembuluh darah arteri pada manusia. Oleh karena resilin menyerupai protein elastin pada pembuluh vena manusia, para ilmuwan berharap bahwa penelitian mereka akan memberi vena kelenturan yang terbaharui.

Profesor asal Inggris Roger Greenhalgh menyatakan bahwa “Penelitian [terhadap resilin] tampaknya berada pada tahap paling awal, tapi jika kita dapat mengambil sesuatu yang bagus dari kelenturan kutu tersebut yang bermanfaat bagi manusia, hal itu akan sangat berkesan“


Rujukan:
1. "Synthesis and properties of cross linked recombinant pro-resilin,"; by Christopher M. Elvin, Andrew G. Carr, Mickey G. Huson, Jane M. Maxwell, Roger D. Pearson, Tony Vuocolo, Nancy E. Liyou, Darren C. C. Wong, David J. Merritt and Nicholas E. Dixon, Nature 437, 999-1002 (13 October 2005) | doi: 10.1038/nature04085; "Flea protein may repair arteries" BBC News, October 12, 2005

Jumat, 18 September 2009

The Beauty of Forgiving



Kamis, 17 September 2009

Atas Nama Hati Nurani: Suara dari "Gay-Muslim"


Barangkali anda pernah membuka website Hijrah, sebuah situs untuk homoseks Muslim. Pengelola website ini berpegang pada keyakinan Islam mainstream bahwa kecenderungan homoseks tidak boleh disalurkan. Meskipun begitu, mereka cukup berpandangan “moderat” bahwa prasangka dan diskriminasi yang dialami kaum homoseks harus diakhiri. Mereka juga punya wadah mailing list bernama hijraheuy. Di samping hijraheuy, ada satu lagi mailing list yang mewadahi maksud serupa bernama backtofitrah.

Pengelola website ini juga para homoseks, meskipun mereka lebih suka menyebut dirinya sebagai same sex attraction (SSA). Mereka membedakan istilah “gay” dan “homoseks” atau SSA yang lebih sering dipakai dalam tulisan-tulisan yang dimuat. Istilah gay menurut mereka hanya bisa dilekatkan pada SSA yang melakukan praktik homoseks. Sedangkan SSA adalah terminologi netral yang digunakan untuk menyebut orang yang memiliki kecenderungan seks sejenis. Dengan begitu, mereka menolak disebut gay karena berpendirian bahwa homoseks adalah perbuatan terlarang. Namun, beberapa cerita dalam website itu menunjukkan, mereka bukanlah orang yang benar-benar terasing dari dari praktik homoseksual. Setidaknya pada masa lalu kehidupannya.

Apa saja alasannya hingga para SSA ini beranggapan praktik homoseks adalah perbuatan terlarang? Di samping merujuk pada ayat-ayat Alquran yang secara mainstream dipahami mengharamkan seks sejenis, mereka kebanyakan menunjuk kehidupan masa lalu yang tidak menyenangkan sebagai gay. Kenyataan itu memastikan, sebagian dari mereka tidaklah steril dari praktik seks sejenis.

Haykal, menulis seperti ini di milis hijraheuy : “Terus terang, dulu aku menerima kedaan bahwa diri aku G, karena kalau diri kita tak menerima, siapa lagi yang akan menerima diri kita? tapi penerimaanku bukan penerimaan yang statis, aku terus berusaha untuk memperbaiki diri karena salah satu hal yang membuat aku terus bertahan hidup adalah harapan untuk sembuh dan menjalani hidup secara normal. Bagaimana kita mau sembuh kalau masih berkubang dalam dunia G. Memang hal yang paling sulit dalam kehidupan adalah melupakan masa lalu, kita sadar masa lalu kita buruk, tapi tak bisa diulang dan telah menjadi catatan hitam dalam sejarah kita. Selama aku menjalani dunia g, aku tak mendapat kebahagian yang sebenarnya, hanya kebahagian semu karena tipu daya setan. Hidup tak punya masa depan, oke-lah kita sekarang masih muda, karir oke, tampang keren, tapi aku tidak mau menjalani masa tua nanti hidup dalam kesendirian dan terlupakan seperti Leonardo da Vinci...…” Nang Bond berkomentar begini menanggapi tulisan diatas : “Waduh mas, kisah hidup panjenengan kok sepertinya nyindir saya? memang bener mas, "jeruk kok makan jeruk ya?", tapi enak tho? he... he..... Setuju seratus persen mas, memang di kehidupan yang "beda" tuh butuh energi ekstra,,,, tahan banting,,,,, ketakutan ketahuan orang, begadang. Emang bener kok ... dunia yang panasssssssss.. kata orang panas itu hawa neraka jadi jauhilah yang panas - panas…..”

Ada pula kisah Mr. LSP yang terus terang mengaku terlibat praktik seks sejenis. Menurut ceritanya, sebelum menikah Mr. LSP tidak bernah bergaul dengan para gay, apalagi terlibat hubungan seks. Saat sekolah di luar negeripun ia mampu meredam godaan-godaan itu. Tapi justru setelah pulang ke tanah air Mr. LSP kemudian terlibat perselingkuhan dengan beberapa pria gay. Namun, tidak ada penjelasan mengapa Mr. LSP yang tadinya menjalani kehidupan “normal” tiba-tiba menempuh permainan “panas”. Padahal katanya kehidupan rumahtangganya baik-baik saja.

Saat ini Mr. LSP terlibat dilema yang sulit untuk meninggalkan pergaulan yang “panas” itu. Di akhir kisahnya Mr. LSP memberi pesan : “Please, yang belum terlanjur melakukan kebodohan seperti saya, JANGAN PERNAH MEMULAI. Ini seperti narkoba yang membuat anda kecanduan…..”

Menariknya, beberapa tulisan tidaklah melulu berisi diskusi mengenai praktik homoseks. Ada tulisan yang memberi tips bagaimana cara berhubungan intim dengan istri. Tipsnya tentu saja untuk para gay yang menikah secara heteroseks. Salahsatu tipsnya adalah jangan membayangkan berfantasi dengan cowok saat berhubungan dengan istri, nikmati saja hubungan itu. Karena itu, kita harus benar-benar mood saat berhubungan dengan istri. Sayangnya, si pemberi tips tidak menjelaskan langkah apa yang harus ditempuh selain berfantasi dengan laki-laki.

Meskipun dari beberapa tulisan di mailing list hijraheuy masih ada harapan-harapan untuk sembuh dan kembali normal, kenyataan bahwa homoseks adalah sesuatu yang permanen kelihatannya sudah diterima. Mungkin karena mereka sendiri adalah homoseks dan merasakan sendiri bahwa kecenderungan itu tidak bisa hilang meskipun sudah menikah. Namun, sifat permanen tidak bisa dijadikan alasan untuk menerima praktik homoseks. Demikian penjelasan yang diberikan.

Mereka yang aktif di mailing list hijraheuy dan menulis untuk websitenya kebanyakan sudah menikah secara heteroseks. Kenyataan ini perlu juga dicermati. Tentu saja mereka berpretensi mempertahankan pilihannya dan keharusan menjauhkan diri terhadap praktik homoseksual adalah suatu kewajiban.

Bagaimana pendapat mereka dengan berkembangkan penafsiran baru yang lebih mengakomodasi kalangan homoseks? Semperty di website Hijrah menulis : “Dulu, saya selalu mencari-cari penafsiran baru untuk membenarkan perilaku saya. Tapi saya lalu menyadari bahwa itu semua adalah pembenaran belaka untuk menyalurkan syahwat….”
Pendapat Semperty lebih merujuk pada pengalamannya sendiri daripada mengritisi berkembangkan penafsiran baru terhadap isu homoseksualitas. Soal masa lalu yang tidak menyenangkan sebagai gay lagi-lagi menjadi rujukan. Barangkali dunia gay yang dilakoni Semperty di masa lalu memang hanya berurusan soal syahwat.

Muzammil Siddiqi lewat tulisannya di website Hijrah bukan hanya menolak penafsiran baru, tapi juga menolak mendiskusikannya. Berikut petikan tulisannya : “Normalnya, kaum muslim merasa benci membuat masalah ini menjadi suatu topik diskusi karena kita tahu bahwa kadangkala setan akan menyebar selama diskusi. Ketika orang mendengar suatu perbuatan yang salah dan berdosa diucapkan berulang-ulang, mereka menjadi terbiasa dengannya dan kemudian secara perlahan perbuatan dosa itu kehilangan bobotnya dalam pikiran dan jiwa mereka….”

Di sini saya ingin mengajak anda merenungkan komentar Noeg dalam tulisannya di website Hijrah berjudul: “Pilihan yang Tidak Populer”. Tulisan Noeg diakhiri dengan pertanyaan : Beranikah anda mengikuti hati nurani dan mengambil pilihan yang tidak populer?

Sampai saat ini sangat sedikit orang yang berani memberi pernyataan tentang orientasi homoseks. Pernyataan Noeg menarik karena menjalani kehidupan gay dianggapnya sebagai sesuatu yang populer. Padahal faktanya lebih banyak orang mengikuti kehidupan seperti dirinya, menikah dan menjalani kehidupan “baik-baik”. Sebenarnya, mana sih pilihan yang lebih populer?
(posted by : arul _ http://arul1980.blogspot.com/2004/12/atas-nama-hati-nurani-suara-dari-gay.html)

 
Powered by Blogger